Wednesday, March 17, 2010

Indahnya Silaturahim

Sebuah catatan perjalanan mudik ke Indonesia.

Sabtu dini hari, tgl 3 Maret 2010

Aku dan suami masih beres - beres rumah. Satu minggu sebelumnya jadwal padat, akibatnya persiapan mudik meski sudah dicicil baru bisa selesai dini hari. Aku sempat tidur malam 2-3 jam, suami mungkin cuma sejam saja. Syukur tidak kebablasan, jadi jam 3 pagi semua bisa bangun dan bersiap - siap. Anak - anak mandi pakai air hangat, kami cukup air dingin saja (udara di dalam rumah bikin gerah, jadi kuat mandi air dingin). Kalo Syafiq cukup lap basah saja, takut masuk angin. Lik Di yang sudah menginap beberapa hari di rumah, ikut mudik bersama kami. Berdebar kami menunggu momen mengharukan pertemuan Lik Di dengan ortuku yang sudah berpisah selama 33 tahun!

Sabtu pagi

Pesawat kami tertunda lepas landas selama setengah jam. Kru pesawat menyampaikan 13 orang tidak bisa berangkat, tertahan pihak imigrasi. Jadi bagasi mereka harus dikeluarkan dari pesawat. Akhirnya pesawat kami lepas landas juga, menderu di angkasa yang bercuaca cerah dan tersinari cahaya matahari pagi. Sekitar 2 jam kemudian, setelah terbang di atas lautan posisi pesawat berada di atas kota Semarang. Kata Kapten Pilot pesawat berada dalam kecepatan 840 km/jam dan suhu di luar pesawat berkisar -48 derajat celcius. Sekitar 20 menit kemudian pesawat kami mendarat di Bandara Adisumarmo Solo.

Sabtu siang

Taksi bandara mengantar kami menuju rumah ortuku di Desa Urutsewu, Kec. Ampel Boyolali. Subhannallah walhamdulillah. Pertemuan yang sudah dinanti - nanti akhirnya terjadi juga. Sungguh membahagiakan sekaligus mengharukan Lik Di bertemu dengan kakaknya(=ibuku). Lik Di tak kuasa menahan air mata. Demikian juga membahagiakan ortuku untuk pertama kalinya bertemu Syafiq yang lahir di Malaysia. Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Engkau atas nikmat yang tak terhingga ini.

Itulah keindahan silaturahim pada hari pertama kami menginjak kembali bumi pertiwi. Sungguh menjadi kenangan manis dalam perjalanan mudik kami.

Welcome back to Malaysia!

Sedih juga mesti meninggalkan ortu, mertua, famili dan sahabat - sahabat tercinta. Tetapi jatah mudik 10 hari memang mesti dipenuhi tidak boleh kurang tidak boleh over. Gak mungkin kalo dikurangi, lha wong Si Sulung Sayyid saja sudah manyun sehari menjelang keberangkatan ke Malaysia. Kata Sayyid, "Kenapa mesti ke Malaysia lagi yang ada H1N1-nya?"(heran nih, kok sampai sejauh itu cari2 alasan he2). Kalo melebihi 10 hari ya gak mungkin juga, rugi tiketnya!

Alhamdulillah, kami menginjak tanah melayu kembali Sabtu siang tgl 13 Maret 2010 setelah meninggalkan Malaysia sejak tgl 3 Maret yl. Bersyukur Air Asia mendarat mulus di LCCT Kuala Lumpur, legaa coz sebelumnya banyak goncangan saat melewati awan tebal. Sampai - sampai Asya huek2, Sayyid juga huek tapi gak sampai keluar muntahnya. Rupanya suami pun dah berasa juga mau muntah. Sementara Si mungil Syafiq rewel melulu saat akan landing. Akhirnya semua bisa lega ketika roda - roda pesawat menyentuh landasan dengan halus tanpa goncangan sedikitpun.
Welcome back to Malaysia!
Let's continue our activities!

Sharing HS : Jadwal Yang Fleksibel

Waktu mudik kemarin aku berkesempatan berkenalan dengan Mbak Retno, seorang psikolog sekaligus praktisi HS. Perkenalan yang bermula dari adanya titipan sobatku Dini Rahmajanti. Untuk menyampaikan titipan tersebut kami mengadakan janji ketemu di Taman Pintar (Tampin) Jogja. 'Ndilalah' kok HP ketinggalan di mobil yang sudah melaju distir suami menuju UMY. Lha, gimana nanti kami bisa saling mengenali padahal belum sempat bertukar info ciri2 masing2.

Alhamdulillah ada jalan. Kebetulan aku janjian minimal dengan 3 orang di Tampin. Waktu celingak - celinguk pandangan bertumbukan dengan Mbak Prapti dari Takaful. "Plis dong tolongin aku, Mbak!", pikirku. Segera kuutarakan permasalahanku setelah saling sapa. Syukur Mbak Prapti bantuin aku minjemin HP. Kontak suami tapi gak diangkat, paling masih nyetir. Akhirnya gak seberapa lama suami menghubungi. Aku minta tolong suami untuk sms atau telepon Mbak retno untuk mengatakan ciri2ku al: nggendong bayi dengan gendongan warna biru. He2...emang kuperhatikan sekeliling gak ada yang punya ciri2 itu. Alhamdulillah gak seberapa kami saling menemukan, entah kenapa sebelumnya aku sempat melihat mbak retno sedang telepon, terlintas dalam pikiranku inikah orangnya? Saat Mbak Retno nyari2 aku setelah dapat info ciri2ku, lalu jarak kami dekat kucoba tanya apakah dirinya Mbak Retno. Ternyata betul. Senangnya akhirnya ketemu juga.

Mulailah kami berkenalan dan saling cerita bertiga dengan Mbak Prapti. Sayang percakapan kami terbatas waktunya, semoga lain kali bisa ketemu lagi. Mbak Retno sepertinya cenderung pada HS yang tidak diatur oleh jadwal. Aku sendiri menggunakan jadwal yang sebagian mencontoh SDIT Alam Nurul Islam dan kuvariasikan sendiri sesuai potensi Sayyid (jadwal Asya tinggal menyesuaikan). Hal ini aku dan suami pilih dengan pertimbangan nantinya Sayyid akan kembali bersekolah di SDIT Alam Nurul Islam, begitu pula Asya akan kami daftarkan ke sana.

Jadwal ini sifatnya fleksibel tidak mengekang. Memang suatu waktu aku terapkan disiplin sesuai jadwal, namun kalau saat itu anak2 lagi gak mau nuruti jadwal ya gak perlu dipaksa. Biasanya aku ajak bernegosiasi untuk menentukan aktivitas hari itu. Namun kadang aku berbuat salah juga dengan memaksa anak2 ikut jadwal. Suatu saat aku tersadar sesuai ilmu yang selama ini aku terima, tidak baik juga pemaksaan belajar untuk perkembangan otaknya dan tidak efektif pula penyerapan ilmunya. Namanya sebagai ortu mesti belajar terus - menerus, aku dan suami kadang gak bisa memenuhi juga konsep pendidikan anak yang positif. Misalnya anak maunya pagi 'art and life skill' padahal di jadwal tertera waktunya pukul 14.00 - 15.00. Kalo anak2 lagi semangat membuat prakarya biasanya aku bolehkan tukar jadwal. Tapi kadang aku maksa sesuai jadwal kalo anak2 malas2an. Padahal gak tepat juga cara seperti itu, seharusnya aku membuat situasi kondusif untuk belajar dengan berbagai aktivitas menarik atau keluar dari jadwal lalu menawarkan alternatif kegiatan lainnya. Tapi kerepotan pekerjaan rt sekaligus mengurus si kecil seringkali menyebabkan aku tidak sempat memberikan variasi2 kegiatan sebagai prolog sebelum jadwal mereka. Oya, jadwal aku buat punya tema yang berlainan tiap minggu. Hal ini sangat bermanfaat dalam melakukan aktivitas belajar yang saling terkait antar pelajaran. Penerapannya tidak saklek harus semua pelajaran ada bahasan tema tersebut, tetapi bisa saja hanya sebagian pelajaran saja yang bertema sama. Hal ini sangat bermanfaat terutama dalam mendidik anak dengan sistem Islam terpadu. Karena ajaran Islam tidak mendikotomikan antara ayat Alqur'an dengan ilmu alam. Misal saat kita berbicara tentang planet, maka sekaligus kita sampaikan dalil - dalil Alqur'an tentang planet. Dalam melaksanakan agenda ini memang tidak mudah. Aku menyadari masih banyak kekuranganku dalam mengajar, terutama belum bisa secara konsisten sistem terpadu ini aku laksanakan. Memang usaha mesti ditingkatkan.

Pada hari ini aku putuskan pula untuk keluar jadwal. Memang Sayyid kurang sehat, tapi dia juga bosan kalo tiduran doang. So, anak2 kubebaskan beraktivitas. Sayyid banyak membaca, Asya memilih didikte dengan menulis di blognya, juga mengerjakan worksheet. Mereka juga beraktivitas di luar rumah seperti main bulutangkis, main sepeda, bermain dengan teman2. Malam harinya mereka pengin membuat bubur sum-sum. Jadilah kami bertiga bekerja sama membuat bubur sum-sum. Setelah Asya makan buburnya terus tidur lelap deh. Sayyid yang kurang fit minta kakinya dibekam kering dulu (nglanjutin tadi siang). Alhamdulillah mereka bisa istirahat setelah beraktivitas seharian.

Thursday, February 4, 2010

Mengawali Homeschooling

Setelah Sayyid dapat rapor kenaikan kelas dari kelas 2 ke kelas 3, kami mulai melakukan HS(Homeschooling). Namun fokus HS di Bulan Nopember dan Desember tahun kemarin adalah untuk persiapan tes semester 1 kelas 3. Jadi program belajar belum tersusun secara mendetil seperti yang kami inginkan. Buku - buku pelajaran sekaligus LKS (Lembar Kerja Siswa) sudah dibawakan teman dari Jogja. Di akhir tahun akahirnya Sayyid dapat berkesempatan menjalani tes semester 1. Tetapi sampai sekarang belum selesai rapornya.


Kerepotan yang harus kujalani setelah kelahiran Syafiq, menyebabkab HS tahun yang lalu belum optimal. Namun tetap syukur alhamdulillah Sayyid sudah cukup mandiri dalam belajar jadi tidak harus selalu ditungguin. Asya lah yang masih suka merengek minta ditungguin, maklum masih 5 tahun. Tetapi selalu kuberi pengertian bagaimana repotnya mengurus bayi baru lahir. Asya bisa cukup lama ditinggal kalau diberi Worksheet yang disukainya misalnya mencocokkan angka dan gambar, mencocokkan kata dan gambar, mewarnai atau membaca. Mereka juga kami belikan mainan edukatif yang bisa menjadi kegiatan selingan. Untuk membuat anak - anak enjoy HS kami harus membuat program yang variatif, ini merupakan salah satu tantangan bagi kami.

Alhamdulillah di pertengahan Bulan Desember teman se-lab suami membawa keluarganya yang melaksanakan HS juga. Sayyid dan Asya cocok sekali bermain dengan Adzra dan Zafran anak mereka. Kebetulan aku juga cocok ngobrol sama Mbak Lily (ibunya Adzra). Kami juga sama - sama direpotkan dengan mengasuh bayi (anak Mbak Lily 9 bln). So, meski Keluargaku dan keluarga Mbak Lily domisilinya berbeda (kami di Kajang Utama sementara mereka tinggal di Bangi) kami cukup sering beraktivitas bersama. Kegiatan belajar bersama ini sangat bermanfaat dalam memberikan variasi suasana belajar bagi anak - anak dan dapat meluaskan wawasan, sharing serta menguatkan motivasi melakukan HS.

Kegiatan bersama yang sudah pernah kami lakukan antara lain : membuat es krim, renang bersama, rekreasi bersama, kunjungan ke perpustakaan, meronce, bulutangkis, bersepeda, dll. Yang terakhir kemarin adalah "Mencari Harta Karun". Ok, gambaran bagaimana aktivitas bersama tersebut akan kutulis dalam postingan yang berbeda.



Tuesday, December 29, 2009

Pintar Momong Adik

Syafiq yang masih mungil nampak responsif terhadap perlakuan penuh kasih sayang dari Mas Sayyid dan Mbak Asya. Setiap Syafiq menangis, maka Mas dan Mbaknya segera menengoknya. Dengan penuh perhatian mereka berdua akan bertanya, "Syafiq kenapa nangis? Mau mimik ya? BAB ya?".

Saat aku ke kamar mandi sementara Syafiq tidak tidur, maka mereka berdua secara bergiliran menjaga Syafiq dengan senang hati. Kalau aku terlalu lama tidak muncul di depan Syafiq padahal Syafiq sudah mulai menangis, maka mereka menyanyi di atas kursi dengan hebohnya. Ajaib, Syafiq dengan seksama memperhatikan kedua kakaknya (yang paling proaktif Mas Sayyid) dan lenyaplah tangisannya. Syafiq pun sering senyum - senyum dan sedikit mengoceh saat diajak bicara keduanya.

Salah satu yang menarik lagi dari cara mereka momong Syafiq adalah nada bicara masing - masing yang khas. Aku sudah minta Abinya untuk merekam secara sembunyi - sembunyi, tapi sampai sekarang belum kelakon. Aku sampai bergurau,"Nada bicara Sayyid tuh dah hak patennya, lho..he..he". Mereka dalam berbicara kepada Syafiq begitu luwes. Sayyid nada bicaranya merajuk, Asya cenderung lembut. Kata suami mereka lebih pintar momong adik dibandingkan suami saat masih seusia mereka. Alhamdulillah, ketrampilan momong ini merupakan salah satu kelebihan mereka. Terima kasih putra putriku...

Wednesday, December 9, 2009

Idul Fitri dan Idul Adha di Malaysia

Tahun ini untuk pertama kalinya kami berlebaran di Malaysia. Dan untuk kedua kalinya kami menikmati suasana Idul Adha di negeri jiran. Alhamdulillah kami bisa merayakannya beramai-ramai dengan kawan - kawan dari Indonesia yang memang banyak tinggal di komplek rumah sewa kami. Kami sholat Idul Fitri di Masjid Putra, Putrajaya kemudian makan bersama dan menyempatkan mengunjungi Masjid besi yang baru selesai dibangun. Namun untuk sholat Idul Adha berbeda dengan tahun lalu, kami memilih Masjid kampus UKM bukan Masjid Putra dengan alasan lebih simpel berhubung membawa Si Mungil Syafiq (belum ada 1bln) . Foto kenang-kenangan kami dalam momen istimewa tsb. kutampilkan di bawah ini.

Foto bersama setelah makan bekal yang kami bawa dari rumah di parkiran Masjid Putra.

Abi, Sayyid dan Asya di dalam Masjid Putra.

Kami sekeluarga di depan Masjid Putra.

Berdua di tengah Masjid Besi.


Bersama kawan - kawan perempuan di Masjid Besi.Foto bersama di Masjid Besi.
Bapak - bapak dan anak - anak 'action' dengan latar Masjid Putra dan Jembatan...gak tau namanya.


Kalau ini hewan kurban yang akan disembelih di samping Masjid Asy-Syakirin.

Abi ikut bakar sate sapi..em..baunya sedap..

Kami sarapan di Tasik Cempaka (danau) setelah sholat Idul Adha.

Syafiq tidur lelap setiap kali diajak jalan - jalan.





Permata Hati

Ya Allah mampukanlah kami menjaga amanah-Mu
Yaitu permata hati sebagai karunia-Mu
Semoga mereka menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa
Menjadi insan yang mulia. Amin.







Friday, November 20, 2009

HOMESCHOOLING

Lega sudah, akhirnya rapor kenaikan kelas Sayyid sudah dibagikan. Hasilnya masih bagus meskipun ada penurunan nilai, ada pelajaran yang nilainya mengalami kenaikan, ada pula yang mengalami penurunan. Untuk pelajaran-pelajaran bidang agama Islam seperti fikih, akhlak, jawi, tauhid sebagian besar mengalami kenaikan, rata-rata di atas 90. Pelajaran-pelajaran eksakta banyak yang menurun seperti science, geography. Matematika meski turun masih masuk 'range' nilai A.

Tibalah saatnya bagi kami melaksanakan hasil keputusan musyawarah saat Sayyid mogok sekolah dulu. Keputusan yang kami anggap sebagai solusi terbaik untuk pendidikan Sayyid saat ini adalah HOMESCHOOLING! Ketika Sayyid berhenti dari sekolah kebangsaan dulu, sebenarnya terlintas juga dalam pikiranku untuk homeschooling. Tetapi saat survey di internet belum ketemu informasi yang lengkap dan akurat, jadi masih ragu. Sekarang kami sudah mendapat banyak informasi tentang homeschooling yang menguatkan keyakinan kami untuk mengajar anak sendiri di rumah. Kebetulan Idul Fitri yang lalu banyak teman mudik. Kami pun titip sekalian buku - buku pelajaran kelas 3 smt 1 sesuai dengan kelas yang Sayyid seharusnya ikuti di Yogya. Sementara rapor yang diterima di Malaysia adalah rapor kenaikan dari kelas 2 ke kelas 3. Sebelum kami memberitahu Sayyid tentang homeschooling, ternyata dia tidak 'curiga' dengan buku - buku pelajaran dari Indonesia. Malahan Sayyid langsung baca, bahkan juga mengerjakan soal - soal latihan tanpa bertanya lebih dahulu. Memang Sayyid suka mengerjakan soal - soal tes baik saat di Yogya maupun setelah sekolah di Malaysia.

Namun ada yang perlu kami kritisi dengan buku - buku paket dari Indonesia. Yaitu bila dibandingkan dengan produk dari Malaysia, terlihat sekali buku - buku dari Malaysia terutama yang eksakta seperti matematika dan sains lebih bagus penyusunannya, banyak gambar yang memperjelas uraian materi, bahkan dilengkapi DVD interaktif , padahal harga tidak jauh beda. Singkatnya lebih mudah dan tidak membosankan membaca dan memahami pelajaran dari buku - buku paket dari Malaysia meskipun berbahasa Inggris. Oleh karena itu kami pun tetap berencana menggunakan buku - buku dari Malaysia untuk memperkaya dan memperluas ruang lingkup pembelajaran di rumah. Tantangan pula bagi kami dengan hadirnya baby di rumah, sehingga kami sekeluarga harus menyesuaikan dengan ritme kehidupan yang baru. Sehingga jadwal yang berlaku di rumah kami harus bersifat fleksibel, dapat disesuaikan dengan kondisi di rumah yang berubah - ubah. Karena baby belum teratur ritme antara tidur dan terjaga. Suatu saat pagi sampai siang tidur lelap, jadi aku bisa mendampingi belajar anak - anak (Asya pun mau homeschooling seperti abangnya). Tetapi di saat lain waktu pagi sampai siang itu terjaga terus yang artinya minum ASI melulu dengan tidur yang tidak nyenyak, jadi anak - anak hanya dipantau saja. Waktu belajar baik pelajaran sekolah maupun aktivitas lain seperti membaca buku non pelajaran, mewarnai, nge-blog, memasak, melipat baju, bermain, dll bisa digeser atau ditukar.

Selanjutnya kami masih harus menyusun perencanaan lebih lanjut mengenai homeschooling ini terkait visi, misi, jadwal, aktivitas dll. Anak - anak kami termasuk dinamis dan kreatif. Mereka suka bermain bersama teman - teman setiap hari, dan senang menyusun aktivitas harian. Sehingga homeschooling ini harus dirancang sedemikian rupa, sehingga tidak membosankan bagi mereka. Pendidikan anak yang kami harapkan bisa seimbang antara jasad/fisik, ruh/jiwa dan qolbu/hati. Semoga Allah mampukan kami untuk menjaga amanah yang ada pada kami, yaitu putra - putri tercinta yang kelak diminta pertanggungjawabannya.

Sunday, November 15, 2009

ASI TOP BANGET

ASI alias Air Susu Ibu sudah diakui secara medis sebagai sumber gizi paling lengkap, paling menyehatkan, paling praktis dan bermanfaat dalam membentuk kekebalan tubuh bayi. Bahkan berdasarkan penelitian anak yang mendapatkan ASI semasa bayi cenderung lebih tinggi IQ-nya dibandingkan anak yang tidak minum ASI atau minum ASI hanya dalam waktu singkat. Namun sayangnya meski diakui secara medis, masyarakat luas masih kurang kepeduliannya dalam mendukung para ibu agar memberikan ASI lebih khusus lagi ASI eksklusif 6 bulan kepada bayi mereka.

Aku pun sangat berkeinginan memberikan ASI ekslusif kepada anak - anakku. Meskipun tidak semua terealisasi, tetapi aku sangat bersyukur mempunyai kesadaran untuk memberikan ASI. Untuk anak pertama kuberikan ASI ekslusif 4 bulan, karena setahuku di tahun 2001 itu kampanye ASI ekslusif sampai usia 4 bulan bukan 6 bulan. Untuk anak ke-2 terpaksa sempat minum susu formula, namun hanya sebentar saja, setelah ASI lancar ya minum ASI saja. Untuk anak ke-3 masih proses pemberian ASI eksklusif, semoga sukses sampai 6 bulan.

Setiap selesai melahirkan, selalu saja aku ditawari menggunakan produk susu formula oleh bidan atau rumah sakit. Tentu aku menolaknya, kecuali ketika kelahiran anak ke-2 dimana ASI sedikit sekali sementara bayi juga tidak bisa menyusu, ditambah lagi badanku demam karena radang kista. Yang aku sesalkan ketika kelahiran anak pertama, ASI lancar, bayi juga lancar menyusu. Tetapi bidan kepergok memberikan susu formula tanpa ijin. Duh, rasanya kecewa dan mau marah saja saat itu. Kalau saja para bidan, dokter ataupun pihak rumah sakit mendukung pemberian ASI, tentu mereka tidak terburu-buru menyarankan pemberian susu formula. Apakah hal ini semata-mata untuk bisnis saja? Di mana bidan atau rumah sakit mendapatkan keuntungan yang besar dari sponsor mereka (perusahaan susu formula).

Apapun alasannya, kukira bila kesadaran menyukseskan ASI eksklusif tinggi, maka para ahli medis justru akan memotivasi para ibu agar mau memberikan ASI eksklusif. Ketika anak ke-3 lahir, dengan alasan gula darah bayi rendah yaitu 2.5 seharusnya minimal 4, maka pihak rumah sakit menawarkan pemberian susu formula. Anehnya kami sempat berdebat kecil karena perawat mendesak agar aku dan suami mau menandatangani surat persetujuan pemberian susu formula, dengan alasan bayi akan dicek dokter spesialis anak. Bila gula darah rendah, menurut perawat bayi bisa ditahan di rumah sakit (dirawat). Nah, ini yang kumaksud kalau para ahli medis mendukung ASI eksklusif, tentu mereka tidak mudah memberikan solusi susu formula. Hal yang janggal juga, dari info yang ditempel di dinding, tertulis bayi akan diantar kepada si ibu 3x dalam sehari. Itu artinya minum ASI hanya 3x/hari jadi lainnya susu formula. Untung suamiku berargumen yang membuat perawat bergeming. Kata suamiku, 'Mestinya tidak ada dokter yang melarang seorang ibu memberikan ASI kepada bayinya kan?'. Padahal ASI makanan terbaik untuk bayi yang tidak ada tandingannya, susu paling mahal sekalipun. Akhirnya kami minta waktu untuk menambah pemberian ASI sebelum di tes lagi. Sebelum bayi diantar, aku minum VCO 3 butir, makan roti yang banyak (adanya roti saja). Kalau di Malaysia kan, di rumah sakit gak ada jualan kaki lima seperti di Indonesia, jadi cari makan tidak semudah di Indonesia. Alhamdulillah setelah aku beri ASI lebih banyak lagi ke bayiku, kadar gula darahnya naik menjadi 3,7. Meski belum mencapai kadar minimum, tetapi sudah dianggap aman.

Selanjutnya tinggal waspada terkena penyakit kuning saja. Perawat memberikan arahan agar bayi kerap minum ASI agar tidak terkena penyakit kuning. Kebetulan di hari ke-2 mulai nampak ada warna kuning di sekitar dahi ketika bayi nangis. Untungnya para perawat kemudian membiarkan bayiku di dalam ruanganku, sehingga bisa minum ASI setiap saat (tes darah pada usia 4 dan 7 hari bilirubin normal). Padahal pada papan informasi disebutkan bayi diantar ke ibu 3x sehari. Tampaknya karena kami menunjukkan keyakinan hanya memberi ASI sementara bayi sering menangis, maka akhirnya bayi boleh diletakkan di ruang ibu. Keinginan memberikan ASI eksklusif memang tidak mudah direalisasikan, oleh karenanya sangat diperlukan dukungan dari suami bahkan orang tua serta lingkungan. Lingkungan dekat seperti keluarga besar dan tetangga seringkali kurang paham maksud dari pemberian ASI eksklusif. Mereka sangat mungkin akan mempengaruhi kita untuk memberikan makanan tambahan mulai bayi berusia 2 atau 4 bulan.

Aku sangat terkesan dengan kampanye ASI yang sering dilakukan LSM ataupun orang - orang yang peduli ASI. Yang aku ingat adalah Bu Ira Zaim Uchrowi yang mengasuh rubrik tentang konsultasi ASI di majalah muslimah UMMI. Bu Ira selalu memotivasi dan meyakinkan para ibu pasti ada solusi atas berbagai kendala dalam pemberian ASI.

Di dalam Islam diajarkan agar pemberian ASI digenapkan maksimal 2th, kecuali ada hasil keputusan musyawarah yang berbeda antara suami dan istri.
So, mari kita kampanyekan ASI eksklusif untuk generasi yang lebih berkualitas!

Saturday, November 14, 2009

Saat Yang Ditunggu

Alhamdulillah. Setelah melampaui Hari Perkiraan Lahir (HPL) yang jatuh tgl.28 Oktober 2009, akhirnya lahirlah bayi kami, Cardio Syafiq Abdul Qowiy. Persalinan dengan didampingi suami tercinta terjadi pada Hari Selasa tgl 3 Nopember 2009 jam 2.36 pagi , di Rumah Sakit An-Nur Bangi Malaysia. Syafiq, demikian kami memangilnya, lahir dengan berat badan 3,05Kg, panjang 50Cm dan lingkar kepala 35,5Cm.

Atas ijin Allah, pada hari ke-7 kelahiran Syafiq tepatnya tgl.9 Nop 2009 kami telah menunaikan sunnah Rasulullah SAW untuk mengadakan aqiqoh dengan menyembelih 2 ekor kambing. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kami. Semoga Syafiq menjadi hamba-Nya yang sholih, teguh jiwanya, kuat dan sehat fisiknya, bermanfaat bagi keluarga dan umat. Amin.