Saturday, February 9, 2013

renungan sebelum tidur

Kucoba nulis blog lewat blackberry,
 meski tersendat - sendat.
siang td, kami jenguk Paklik di rsup 
sardjito yogya. Sedih lihat kondisinya. 
Beliau dah bertahun-tahun harus cuci darah berhubung ginjalnya sdh tk serfungsi lagi. sekarang ditambah. skt infeksi pencernaan d bronkhitis. kasihan beliau sdh tambah lemah. smg Allah.  .berikan kesabaran, k dkesembuhan.
Smg kami yg sehat bisa lbh bersyukur dn mnkatkanibadah kami. amin.

Dlm hlatku, kurenungi. betapa sg menunda w solat kala kondisi sehat. p  badan jatuh sakit, apakah sholt kt lbh khusyuk?

Monday, November 7, 2011

Ngantor Lagii...

Cuti di Luar Tanggungan Negara...singkatnya cdtn sudah berakhir akhir Agustus lalu. Kebetulan sekali saat masuk pertama kantor tepatnya tanggal 5 September 2011 bertepatan hari pertama setelah libur Lebaran. Pagi-pagi udah ada sebarisan pegawai, berdiri membentuk poligon...soalnya gak beraturan bentuknya menyesuaikan ruang lobi lantai 1 Gedung Kanwil Direktorat Jenderal Pajak DIY.
Setelah isi presensi (gak daftar finger print langsung pake kode NIP aja) gabung deh ama barisan yang sudah semakin memanjang. o...saat yang tepat buat bersalam-salaman saling bermaafan sekaligus me-refresh memori tentang teman-teman pegawai yang lama. Banyak yang terkejut melihatku dah aktif lagi di kantor. Sekarang aku harus masuk kerja dulu setiap hari seperti pegawai yang lain.
Namun demikian status pegawaiku belum 100% aktif. Kan SK pengaktifan PNS belum kelar juga. Bahkan sampai hari ini...terhitung dah 8 bulan!
Semoga SK segera turun, hasil pelacakan terakhir posisi masih di Kementrian Keuangan setelah melalui jalur KPP Pratama Sleman terus ke instansi di atasnya sampai BKN (Badan Kepegawaian Negara) lalu kembali ke Kementrian Keuangan. Selanjutnya nunggu SK turun...kayak mendaki ke puncak gunung aja ya, perjalanan surat permohonan pengaktifan PNS-ku.
It's ok, aku nikmati saja semua ini. Semoga semua urusan bertambah lancar dan mudah. Amin.

Sunday, April 10, 2011

Goodbye Malaysia!

Setelah dua setengah tahun bersama sekeluarga merantau di Malaysia, akhirnya tiba saat kembali ke Jogja. Tiket Kuala Lumpur-Solo sudah di tangan sejak menjelang akhir tahun 2010. Maklumlah, kami cari tiket murah AirAsia (tiket promo) yang biasanya harus di booking beberapa bulan sebelumnya. Tercantum pada tiket, tanggal keberangkatan 22 Maret 2011. Inilah waktu yang telah kami pilih untuk menapak kembali ke bumi pertiwi yang kami rindu, dengan berbagai pertimbangan. Antara lain visa kami yang akan berakhir awal April 2011. Padahal awalnya kami berencana pulang Juni 2011, menyesuaikan waktu kenaikan kelas Sayyid dan Asya. Kalau kami lakukan perpanjangan visa yang biayanya cukup besar tapi hanya digunakan dua bulan, tentu jadi pemborosan. Kalau exten setahun di Malaysia tidak bisa juga, karena insya Allah September Ummi masuk kerja. So, tanggal 22 Maret menjadi pilihan terbaik kami.

Menjelang kepulangan kami ke tanah air, benar-benar waktu kami full untuk persiapan kepindahan. Bersyukur ada teman dari Jawa Timur yang melanjutkan sewa rumah kami. Jadi dalam membereskan rumah lebih ringan. Coba kalau seperti teman-teman yang pindahan terus mesti ngosongin rumah. Lha, di Malaysia ini gak kayak di Indonesia yang mudah memberikan barang-barang perabot. Dipan, kasur, rak, meja dll kalau gak ada yang mau kan, malah susah mbuangnya?

Semua keperluan untuk penerbangan ke Solo sudah kami persiapkan hingga menjelang tengah malam, malam terakhir di Malaysia (kecuali suami yang akan balik lagi). Perasaan kami bercampur aduk antara bahagia, terharu dan ...sedih! Tentu saja bahagia kan, mau balik ke tanah air tercinta, kumpul sama ortu, keluarga besar, teman-teman dll. Terus kenapa kok, ada sedihnya, nih? Yah....perpisahan selalu menyisakan rasa kehilangan yang berujung pada kesedihan. Ya, kehilangan sahabat-sahabat, teman-teman yang sudah begitu lekat dalam kehidupan kami di Malaysia. Suka duka telah kami lalui dalam ikatan persaudaraan yang indah.

Pada hari keberangkatan kami pagi itu mendung dan gerimis, seakan merasakan kesedihan akan perpisahan ini. Kami diantar Mas Adhi dan Mbak Lily sekeluarga, dan calon roomate suami menyetir mobil kami, Bang Zulham dari Medan. Di bandara, Sayyid-Adzra-Asya terlihat sendu. Adzra berkeinginan mengantar kami sampai naik eskalator menuju ruang imigresyen. Sebelum check in selesai, mereka ternyata sudah tidak dapat menahan isak tangis lagi. Air mata membanjiri pipi-pipi mereka, sambil terdengar isakan yang cukup keras. Kesedihan mereka sangat dalam. Bagaimana tidak, kami selalu HS bareng secara periodik. Rekreasi bareng di mana sarana wisata juga menjadi ajang HS bagi kami. Belum lagi acara pengajian anak bareng. Silaturahmi bareng, olahraga bareng dll bareng. Tanggal ini merupakan waktu yang kami tunggu, meski harus diiringi kesedihan. Tapi kata Adzra kepada Ummi Lily, waktu ini justru waktu yang paling tidak dia harapkan. Begitulah... Dua keluarga HS akhirnya harus berpisah, Semoga Mbak Lily sekeluarga istiqomah dalam menjalankan HS untuk putra putrinya.

Selama di ruang 'imigresyen', ruang tunggu, bahkan di dalam pesawat, tidak henti Sayyid dan Asya menumpahkan air mata. Ummi pun jadi ikut terharu dan turut meneteskan air mata. Sebenarnya air mata kami mempunyai nilai keindahan. Keindahan persaudaraan, persahabatan. Air mata kami menjadi bukti ikatan hati yang kuat dalam dua keluarga ini. Anak-anak kami senantiasa saling memberikan tanda mata sebagai bentuk kasih sayang dan sebagai kenang-kenangan setelah berpisah. Kenang-kenangan terakhir dari Adzra adalah buku harian dengan cover foto-foto mereka. Mereka berjanji untuk mengisi buku harian masing-masing, dan suatu saat bila ketemu akan saling menunjukkan tulisan apa yang tertuang dalam buku harian itu.

AirAsia membelah angkasa yang pagi hingga siang itu sejak dari Bandara LCCT Sepang sampai Bandara Adisumarmo senantiasa mendung. Semendung hati kami.Tapi harapan kami mendung ini akan segera berganti menjadi cerah, secerah cita-cita kami dalam merajut perjuangan kembali di tanah pertiwi.
Goodbye Malaysia!

Friday, March 18, 2011

Istiqomah Menutup Aurat Bagi Para Ibu.

Berjumpa dengan sahabat lama, setelah bertahun-tahun tidak ada kabar tentunya membawa kebahagiaan dan keharuan. Di masa lampau berjuang bersama di bangku kuliah, saling membantu dalam mengatasi kesulitan dalam banyak hal, meraih impian bersama. Kemudian setelah lulus perpisahan tidak terelakkan lagi, karena jalan perjuangan melanjutkan mimpi-mimpi lainnya berbeda arah. Masa berlalu tanpa ada perjumpaan, hanya sedikit selentingan cerita yang terdengar saat secara kebetulan berjumpa dengan kawan lainnya.

Lantas terjadilah pertemuan yang membahagiakan itu, di kota tempat kami berjuang dulu. Salam, senyum, jabat erat dan peluk hangat mewarnai perjumpaan kami saat itu. Kabar baik dari sahabatku itu bahwa dia sudah bersuami dan belum lama dikaruniai anak pertama. Alhamdulillah kami sudah sama-sama berkeluarga dan dikaruniai permata hati. Mengalirlah cerita bergantian dari mulut kami dengan penuh kerinduan, cerita tentang perjalanan yang telah kami tempuh bertahun-tahun. Kami pun tetap saling memberikan dukungan atas jalan hidup masing-masing. Dia mengabdikan diri sebagai seorang guru, namun demikian perjuangannya masih panjang. Perjuangan dalam meningkatkan keluasan ilmunya, perjuangan dalam memapankan posisinya agar diangkat menjadi guru tetap di sebuah sekolah swasta. Kami saling menyemangati dengan perjuangan masing-masing.

Tibalah saatnya kami berpisah kembali, jabat erat dan peluk cium mengiringi perpisahan kami. Saat melangkahkan kaki keluar rumah, terjadilah keganjilan itu. Sahabatku itu mengiringi langkah kami keluar rumah tanpa mengenakan kerudung. Aku terkejut melihatnya, segera kuingatkan bahwa dia belum berkerudung. Tapi dia hanya senyum-senyum aja, sambil menunjukkan sikap kalau kuterjemahkan kira-kira...yah, dah terlanjur atau yah, bentar aja kok! Astaghfirullah. Aku sempat mengingatkan dia agar kerepotan mempunyai bayi jangan mengendorkan kita dalam konsisten menutup aurat.

Ya, saat mempunyai bayi memang mempertahankan prinsip menutup aurat tidak mudah. Badan kita tidak bisa gesit menyambar kerudung apalagi memakai kaos kaki saat tiba-tiba tamu berdatangan ke rumah. Karena luka jahitan setelah melahirkan memang menyebabkan kita harus pelan-pelan berjalan, membungkuk, dll. Kegiatan menyusui pada saat setelah melahirkan juga lebih repot ketika banyak orang di sekeliling kita. Kalau tamu yang datang memahami etika bertamu tentunya tidak ada masalah, tapi kalau yang suka selonong masuk rumah orang kan, jadi repot? Namun segala kesulitan di atas insya Allah akan teratasi kalau kita dan keluarga punya komitmen dalam menjaga prinsip. Suami atau anggota keluarga yang lain bisa membantu dalam mengambilkan atau bahkan memakaikan kerudung. Jangan lupa berdoa agar bisa istiqomah menutup aurat.

Kembali pada sahabatku tadi, aku sungguh prihatin dengan kenyataan dia berani tidak berkerudung keluar rumah. Lebih khawatir lagi bila menjadi kebiasaan. Dan ada yang menambah keprihatinanku lagi adalah ada kawan lain juga yang saat aku bertamu ke rumahnya, dia ke depan rumah menyongsong batitanya tanpa berkerudung. Tampaknya bagi muslimah yang sudah menutup auratnya sebelum menikah, mesti siap mengantisipasi ujian seperti di atas. Semoga Allah kuatkan iman kita dan kita bisa menjaga aurat kita.

Tuesday, February 15, 2011

Bultang Bikin Bugar (B3)

Segeer! Badan terasa bugar setelah olahraga pagi meski cuma setengah jam. Pagi ini Ummi dan Sayyid main bultang alias bulutangkis di depan rumah. Tak lupa melakukan peregangan otot yang cukup agar gerakan gesit kami tidak membuat cedera. Syafiq pun ikut pegang raket sambil jalan-jalan berkeliling. Asya yang baru bangun tidur masih ndomblong alias bengong melihat kami berlawan. Kalau 'shuttlecock' keluar malah Ummi jadi berlarian ke sana ke mari sekalian membakar lemak he..he.

Olahraga sekeluarga yang kami lakukan biasanya ya bultang ini, ditambah renang, main bola, catur(olahraga otak kali ya), jogging, bersepeda. Yang belum terlaksana dari rencana adalah main tenis dan tenis meja. Hmm..olahraga sekeluarga selain menumbuhkan gaya hidup sehat juga mempererat hubungan antar anggota keluarga dan bikin kompak tentunya. Tapi kadang kita mengalami pasang surut juga kayak air pantai he.. he.. Setidaknya kita dah membiasakan olahraga sebagai hobi keluarga yang positif.

Sunday, January 9, 2011

Colmar Tropical, Kota Mini ala Eropa

Colmar Tropical terletak pada bukit yang berlainan dengan Botanical Garden dan Japanese Village, namun masih pada daerah yang sama yaitu Bukit Tinggi Pahang. Bangunan berupa hotel, resto, dll di kawasan ini berciri arsitektur Eropa. So, terpikir juga gimana ceritanya sampai dibangun tempat wisata dengan tema menarik seperti ini?

Lagi-lagi kami di sini cuma lihat-lihat doang. Kami kan bawa makanan dari rumah, agar hemat. Soalnya resto-resto di tempat wisata biasanya mahal, dan lagi nyari makan gak semudah di Indonesia yang banyak pedagang kaki lima. Tapi yang pasti tempat ini menarik, pemandangan sekitar juga indah dan banyak fasilitas juga seperti olahraga menembak, hotel, padang golf, dll. So bagi yang koceknya tebal bisa menikmati fasilitas yang ada. Untuk kami sih, cuci mata aja :-)







Alam Yang Segar di Bukit Tinggi

Bulan Desember Tahun 2010 yl kami sekeluarga bersama teman-teman mengadakan rihlah ke Bukit Tinggi, Pahang. Kami mengendarai lima mobil berkonvoi, janjian di Serdang sekitar pukul 09.00. Keluarga kami berangkat dari Kajang Utama sekitar pukul 08.30 pagi. Dari Serdang menuju Bukit Tinggi melalui Kuala Lumpur kemudian mendekati lokasi kami harus menyusuri jalanan menanjak (namanya juga bukit). Karena kami beberapa kali berhenti maka perjalanan menjadi lebih lama. Sekitar jam 11.30 kami sampai tujuan. Di sana ada dua lokasi tujuan kami yaitu Botanical Garden satu lokasi dengan Japanese Village dan Colmar Tropical. Ini dia foto-foto dari Japanese Village dan Botanical Garden, untuk Colmar Tropical insya Allah dalam posting berikutnya.


Di Japanese Village




Di Botanical Garden





Dua tempat ini berdekatan sekali, berjarak kira-kira 100 M. Kami tidak mengelilingi seluruh area Botanical Garden karena isinya sebagaimana umumnya taman/kebun yang biasa kami kunjungi dan tentunya luasnya jauuh lebih kecil dari Kebun Raya Bogor. Tetapi tetap menyenangkan terutama mengajak anak-anak menikmati indahnya tanaman yang cantik-cantik dan sebagian juga baru pertama kali kami lihat di sini. Ada kolam ikan juga, sebenarnya ada resto jepang juga tapi kayaknya dah tutup tuh. Oya, kami sangat menikmati perjalanan menuju lokasi di mana di kanan kiri tampak hutan hujan tropis yang asri dan indah.

Di Japanese Village tentu bernuansa Jepang, tapi kami cukup melihat-lihat aja coz gak sesuai ama kocek dan suasana kayak berbusana Jepang, spa, dll (tapi gak semua fasilitas yang ditulis di papan info ada). Terlintas dalam pikiran, dulu asal muasal ada Japanese Village di Bukit sini gimana ya? Apakah ada pengusaha asal Jepang yang punya ide dan lihat peluang bisnis di sini? Sebuah pertanyaan yang gak tau jawabnya...

Thursday, December 16, 2010

Pengaruh Televisi Terhadap Anak

Seorang teman bercerita, anak-anaknya mulai mengucapkan kata-kata yang buruk belakangan ini. Selidik punya selidik ternyata gurunya tak lain adalah film-film kartun di televisi. Anaknya padahal anak perempuan yang sifatnya kalem seusia Asya. Bagaimana lagi jika anak yang energik menonton tayangan-tayangan penuh kekerasan semacam naruto atau film-film kartun lucu yang mengajarkan pukul-pukulan. Lain lagi dengan tetangga saya, justru dia membiarkan anak-anaknya menonton televisi sesuai keinginannya dengan alasan kasihan sudah sekolah full, pagi sekolah agama sementara siang sekolah umum. Jadi televisi menjadi hiburan bagi anaknya setelah capek seharian sekolah. Saya selalu ingat sharing seorang Psikolog Mohammad Faudzil Adhim, beliau bilang saya tidak mau punya televisi kalau belum bisa menguasai televisi. Nah, kalau menurut pengertian saya, maksud pernyataan dikuasai TV bisa dicontohkan seperti ini :
-Kalau ibu-ibu waktu masaknya gak mau benturan sama jadwal TV, nyetrika pun sambil matanya tidak lepas dari TV.
-kalau Bapak-bapak punya tontonan favorit, asyik sendiri nontonnya sementara anak dan istri mau ngajak ngobrol disuruh pergi karena mengganggu.
-bila anak-anak asyik nonton TV berjam-jam tiap hari, ada teman-temannya datang pada main bermacam mainan eh..asyik sendiri nonton TV.
Kebalikannya kalau kita bisa menguasai TV artinya kita bisa mengatur tayangan apa yang bermanfaat yang bisa ditonton, kapan waktunya anggota keluarga bisa nonton, berapa lama boleh menonton dan janganlah kita dalam beraktivitas mencocokkan dengan jadwal tv.
Jadi bagaimanakah seharusnya kita memanfaatkan televisi di rumah?

Berbagai kasus tindak kekerasan semakin banyak kita baca atau tonton di media cetak maupun elektronik dewasa ini. Pelakunya bukan hanya orang berusia dewasa, anak-anak pun banyak yang melakukan kekerasan baik kekerasan fisik, seksual maupun psikis. Dari berbagai seminar dan kegiatan parenting saat masih di Jogja, bertambahlah informasi saya bahwa tayangan televisi berperan dalam mempengaruhi perilaku buruk anak-anak. Tampaknya orang tua zaman sekarang harus lebih disiplin dalam memantau aktivitas anak. Masalahnya apakah ini berarti orang tua berperan bak seorang satpam yang tidak lepas dari mengawasi gerak-gerik anak? Wah, kalau yang seperti ini malah berarti membuat anak tidak mandiri dan anak pun merasa tidak dipercaya. Lagi pula mana bisa orang tua mengawasi anak terus-menerus, iya, kan? Disiplin di sini artinya orang tua selalu memantau tontonan anak (sebelumnya dibuat kesepakatan tayangan yang akan ditonton), menjaga ketertiban waktu nonton anak dan bila diperlukan mendampingi anak menonton acara televisi.


Televisi merupakan salah satu sarana efektif dalam penyampaian suatu pesan, misi atau nilai. Contohnya setelah anak menonton iklan susu formula atau snack apalagi yang ditonton berulang-ulang, maka anak mudah tergiur untuk minum susu formula atau makan snack seperti yang diiklankan. Hal ini disebabkan sifat anak yang suka meniru, apalagi kalau yang mengiklankan merupakan tokoh idolanya. Maka apabila tokoh kartun yang rutin ditonton suka memaki bahkan memukul akan mudah ditiru anak yang berakibat mempengaruhi pembentukan karakter anak menjadi tidak baik.

Saat di Yogya dulu anak-anak saya pun menonton naruto. Suatu saat saya pernah ikut menonton di mana saat itu menayangkan adegan pembunuhan. Saya sangat terkejut menyaksikan adegan vulgar yang ditampilkan secara jelas dan sadis. Ada gerakan menyerang dengan pisau atau pedang, ada korban dan darah. Astagfirullah! Saya saat itu segera memberikan penjelasan bahwa adegan tersebut adalah buruk karena menyakiti orang lain, dst. Saya sampaikan juga seharusnya tontonan anak-anak tidak menampilkan tindak kekerasan, justru sebaliknya mengajarkan anak berbuat kebaikan. Akhirnya beberapa waktu kemudian setelah diperkuat berbagai informasi yang saya peroleh tentang muatan negatif film kartun naruto, saya sampaikan kepada anak-anak untuk tidak menonton lagi kartun ini. Kecewa? Pastilah. Tetapi karena sejak mereka bayi biasa diajak komunikasi, maka mereka pun bisa diajak diskusi mengenai masalah ini dan akhirnya menerima penjelasan saya. Tetapi biasanya kalau ada acara yang distop kami bolehkan memilih acara atau film lain sebagai pengganti dengan syarat yang mendidik atau cukup aman (ada diskusi lagi yang kami lakukan untuk memilih tayangan pengganti).

Waktu itu film lain yang menjadi kesukaan Sayyid selain naruto saat usia sekitar 6 tahun adalah Ronaldowati (yang kurang mendidik juga). Film ini bukannya memotivasi anak untuk tekun berlatih dan berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita, tapi malah mengajarkan anak berpikir instan dapat pertolongan gaib(seide dengan kantong ajaib doraemon) dan suka magic(bantuan dengan kekuatan gaib menyerupai harimau, dll yang tidak syar'i). Beruntungnya masih ada acara mendidik yang dikemas menarik yang disukai Sayyid terlebih lagi Asya, yaitu Si Bolang Bocah Petualang, Laptop Si Unyil dan Jalan Sesama. Kalau kartun yang disukai The Rugrats, Blue's Clues. Tapi karena Sayyid bertambah besar sepertinya bosan sama blue's clues. Kartun yang kami batasi antara lain spongebob, doraemon.

Waktu menonton pun kami batasi. Menurut pakar psikologi anak, waktu menonton televisi bagi anak maksimal 1 jam tiap hari, ada juga yang berpendapat 2 jam. Saat menonton televisi otak si anak jadi pasif, bagi anak yang bakat gemuk juga akan lebih mudah bertambah berat badannya dengan nonton TV. Otak anak-anak 80% berkembang hingga usia 3 tahun, sisanya masih berkembang hingga rentang usia 12-14 tahun. Untuk perkembangan otak yang optimal diperlukan stimulasi atau eksplorasi, sehingga kebanyakan nonton TV akan menghambat perkembangan otak anak. Oleh karenanya nak-anak memerlukan banyak aktivitas yang bersifat stimulatif dan eksploratif, terlebih lagi pada diri mereka tersimpan energi besar. Tinggal orang tuanya yang mengarahkan/memprogramkan dan memfasilitasi kebutuhan anak untuk perkembangan yang optimal. Sebuah tantangan yang besar untuk mendidik putra putri kita demi masa depannya dunia akhirat.

Monday, December 13, 2010

Alhamdulillah, Dapat Juara Lagi!

Bulan Ramadhan yang lalu Sayyid dan Asya mengikuti perlombaan anak-anak Indonesia untuk wilayah Kajang, Bangi dan sekitarnya. Alhamdulillah Sayyid meraih juara 1 untuk hafalan dan juara 1 untuk cerdas cermat. Sementara Asya meraih juara 1 mewarnai dan juara 3 baca puisi. Tahniah, semoga menambah semangat belajar kalian!


Saturday, December 11, 2010

Kegiatan Anak 5 dalam 1

Anak-anak yang sempat merasakan bersekolah di Indonesia kemudian melanjutkan sekolah di Malaysia umumnya merindukan suasana seru bermain dengan teman sebaya (sharing kawan2 dr Kajang, Bangi, Serdang, KL). Pada saat bersekolah di Indonesia biasanya anak-anak punya aneka macam permainan khususnya permainan 'outdoor' seperti betengan, tali karet, dll (susah nyebutin namanya). Kalau tinggal di perumahan yang banyak anak Indonesianya ya, lumayan (seperti di lorong kami) bisa melakukan variasi permainan. Namun kalau tinggal di apartemen, flat atau rumah teres yang minim anak Indonesianya terasa banget sepinya.
Meskipun anak-anak ini berinteraksi juga dengan anak Melayu, India dan Cina tapi mengajak permainan ala Indonesia sulit untuk dilakukan. Masalah komunikasi, adat kebiasaan masing-masing boleh jadi mempersulit keinginan ini. Demikian pula di lingkungan sekolah, permainan tentu ada tapi memang beda dengan model permainan 'outdoor' ala Indonesia. Setidaknya hal tersebut dirasakan oleh anak-anak yang kami kenal di daerah Kajang, Bangi, Serdang, Kuala Lumpur. Oleh karenanya, dalam kegiatan pengajian anak di Kajang Utama kecuali untuk antisipasi jenuh mengaji juga untuk eksplorasi potensi dan memuaskan dahaga permainan seru, senantiasa kami programkan kegiatan yang variatif. Foto-foto berikut merupakan rekaman aktivitas 5 dalam 1 di Bulan Agustus y.l. meliputi :

1. Kegiatan memasak di Pos 1 terdiri dari mengiris tempe, membumbui dan menggoreng tempe.
2. Mencari jejakDari Pos 1 s.d. Pos 3 (memahami tanda/petunjuk).
3. Tugas membuat mahkota dari daun namun dengan perintah yang divariasi dengan teka teki. Sehingga anak belajar menggunakan logika dalam memecahkan teka teki dan memahami perintah. Selain itu anak belajar berkreasi dengan memanfaatkan alam sekitar.
4. Belajar melalui kuis pada Pos 2 disertai nasyid, dll.
5. Menikmati hasil memasak pada Pos 1 yaitu tempe goreng, sebagai lauk pelengkap nasi soto yang sudah kami siapkan. Di sini mereka belajar memetik hikmah bahwa dari usaha sendiri (menggoreng tempe) akan dinikmati buah dari usaha tsb. Di pos terakhir ini selain mengembalikan energi mereka juga merasakan nikmatnya kebersamaan, sehingga mempererat ukhuwah di antara kami semua.

Pada saat mengiris tempe, membumbui dan menggoreng tempe terlihat
antusiasme mereka, padahal mayoritas anak adalah laki-laki. So, janganlah lagi apriori terhadap keinginan anak meskipun laki-laki untuk ikut membantu memasak orang tuanya. Keinginan anak-anak seperti ini pertanda mereka senang bereksplorasi dan mencoba banyak hal. Beri kesempatan kepada mereka agar mereka merasa dihargai dan semakin mengasah kecerdasan serta ketrampilan diri.