ASI alias Air Susu Ibu sudah diakui secara medis sebagai sumber gizi paling lengkap, paling menyehatkan, paling praktis dan bermanfaat dalam membentuk kekebalan tubuh bayi. Bahkan berdasarkan penelitian anak yang mendapatkan ASI semasa bayi cenderung lebih tinggi IQ-nya dibandingkan anak yang tidak minum ASI atau minum ASI hanya dalam waktu singkat. Namun sayangnya meski diakui secara medis, masyarakat luas masih kurang kepeduliannya dalam mendukung para ibu agar memberikan ASI lebih khusus lagi ASI eksklusif 6 bulan kepada bayi mereka.
Aku pun sangat berkeinginan memberikan ASI ekslusif kepada anak - anakku. Meskipun tidak semua terealisasi, tetapi aku sangat bersyukur mempunyai kesadaran untuk memberikan ASI. Untuk anak pertama kuberikan ASI ekslusif 4 bulan, karena setahuku di tahun 2001 itu kampanye ASI ekslusif sampai usia 4 bulan bukan 6 bulan. Untuk anak ke-2 terpaksa sempat minum susu formula, namun hanya sebentar saja, setelah ASI lancar ya minum ASI saja. Untuk anak ke-3 masih proses pemberian ASI eksklusif, semoga sukses sampai 6 bulan.
Setiap selesai melahirkan, selalu saja aku ditawari menggunakan produk susu formula oleh bidan atau rumah sakit. Tentu aku menolaknya, kecuali ketika kelahiran anak ke-2 dimana ASI sedikit sekali sementara bayi juga tidak bisa menyusu, ditambah lagi badanku demam karena radang kista. Yang aku sesalkan ketika kelahiran anak pertama, ASI lancar, bayi juga lancar menyusu. Tetapi bidan kepergok memberikan susu formula tanpa ijin. Duh, rasanya kecewa dan mau marah saja saat itu. Kalau saja para bidan, dokter ataupun pihak rumah sakit mendukung pemberian ASI, tentu mereka tidak terburu-buru menyarankan pemberian susu formula. Apakah hal ini semata-mata untuk bisnis saja? Di mana bidan atau rumah sakit mendapatkan keuntungan yang besar dari sponsor mereka (perusahaan susu formula).
Apapun alasannya, kukira bila kesadaran menyukseskan ASI eksklusif tinggi, maka para ahli medis justru akan memotivasi para ibu agar mau memberikan ASI eksklusif. Ketika anak ke-3 lahir, dengan alasan gula darah bayi rendah yaitu 2.5 seharusnya minimal 4, maka pihak rumah sakit menawarkan pemberian susu formula. Anehnya kami sempat berdebat kecil karena perawat mendesak agar aku dan suami mau menandatangani surat persetujuan pemberian susu formula, dengan alasan bayi akan dicek dokter spesialis anak. Bila gula darah rendah, menurut perawat bayi bisa ditahan di rumah sakit (dirawat). Nah, ini yang kumaksud kalau para ahli medis mendukung ASI eksklusif, tentu mereka tidak mudah memberikan solusi susu formula. Hal yang janggal juga, dari info yang ditempel di dinding, tertulis bayi akan diantar kepada si ibu 3x dalam sehari. Itu artinya minum ASI hanya 3x/hari jadi lainnya susu formula. Untung suamiku berargumen yang membuat perawat bergeming. Kata suamiku, 'Mestinya tidak ada dokter yang melarang seorang ibu memberikan ASI kepada bayinya kan?'. Padahal ASI makanan terbaik untuk bayi yang tidak ada tandingannya, susu paling mahal sekalipun. Akhirnya kami minta waktu untuk menambah pemberian ASI sebelum di tes lagi. Sebelum bayi diantar, aku minum VCO 3 butir, makan roti yang banyak (adanya roti saja). Kalau di Malaysia kan, di rumah sakit gak ada jualan kaki lima seperti di Indonesia, jadi cari makan tidak semudah di Indonesia. Alhamdulillah setelah aku beri ASI lebih banyak lagi ke bayiku, kadar gula darahnya naik menjadi 3,7. Meski belum mencapai kadar minimum, tetapi sudah dianggap aman.
Selanjutnya tinggal waspada terkena penyakit kuning saja. Perawat memberikan arahan agar bayi kerap minum ASI agar tidak terkena penyakit kuning. Kebetulan di hari ke-2 mulai nampak ada warna kuning di sekitar dahi ketika bayi nangis. Untungnya para perawat kemudian membiarkan bayiku di dalam ruanganku, sehingga bisa minum ASI setiap saat (tes darah pada usia 4 dan 7 hari bilirubin normal). Padahal pada papan informasi disebutkan bayi diantar ke ibu 3x sehari. Tampaknya karena kami menunjukkan keyakinan hanya memberi ASI sementara bayi sering menangis, maka akhirnya bayi boleh diletakkan di ruang ibu. Keinginan memberikan ASI eksklusif memang tidak mudah direalisasikan, oleh karenanya sangat diperlukan dukungan dari suami bahkan orang tua serta lingkungan. Lingkungan dekat seperti keluarga besar dan tetangga seringkali kurang paham maksud dari pemberian ASI eksklusif. Mereka sangat mungkin akan mempengaruhi kita untuk memberikan makanan tambahan mulai bayi berusia 2 atau 4 bulan.
Aku sangat terkesan dengan kampanye ASI yang sering dilakukan LSM ataupun orang - orang yang peduli ASI. Yang aku ingat adalah Bu Ira Zaim Uchrowi yang mengasuh rubrik tentang konsultasi ASI di majalah muslimah UMMI. Bu Ira selalu memotivasi dan meyakinkan para ibu pasti ada solusi atas berbagai kendala dalam pemberian ASI.
Di dalam Islam diajarkan agar pemberian ASI digenapkan maksimal 2th, kecuali ada hasil keputusan musyawarah yang berbeda antara suami dan istri.
So, mari kita kampanyekan ASI eksklusif untuk generasi yang lebih berkualitas!
Sunday, November 15, 2009
Saturday, November 14, 2009
Saat Yang Ditunggu
Alhamdulillah. Setelah melampaui Hari Perkiraan Lahir (HPL) yang jatuh tgl.28 Oktober 2009, akhirnya lahirlah bayi kami, Cardio Syafiq Abdul Qowiy. Persalinan dengan didampingi suami tercinta terjadi pada Hari Selasa tgl 3 Nopember 2009 jam 2.36 pagi , di Rumah Sakit An-Nur Bangi Malaysia. Syafiq, demikian kami memangilnya, lahir dengan berat badan 3,05Kg, panjang 50Cm dan lingkar kepala 35,5Cm.
Atas ijin Allah, pada hari ke-7 kelahiran Syafiq tepatnya tgl.9 Nop 2009 kami telah menunaikan sunnah Rasulullah SAW untuk mengadakan aqiqoh dengan menyembelih 2 ekor kambing. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kami. Semoga Syafiq menjadi hamba-Nya yang sholih, teguh jiwanya, kuat dan sehat fisiknya, bermanfaat bagi keluarga dan umat. Amin.
Atas ijin Allah, pada hari ke-7 kelahiran Syafiq tepatnya tgl.9 Nop 2009 kami telah menunaikan sunnah Rasulullah SAW untuk mengadakan aqiqoh dengan menyembelih 2 ekor kambing. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kami. Semoga Syafiq menjadi hamba-Nya yang sholih, teguh jiwanya, kuat dan sehat fisiknya, bermanfaat bagi keluarga dan umat. Amin.
Monday, October 19, 2009
Mogok Lagi
Bulan Oktober ini genap setahun aku dan anak - anak kumpul sama suami di Malaysia. Tepatnya tgl. 7 Okt tahun lalu kami datang ke Malaysia. Lika - liku mendampingi anak - anak dalam menjalani pendidikan sekolah mereka sungguh memberikan banyak pelajaran bagi kami.
Bagi sebagian orang mengalami kendaraan mogok atau macet benar - benar bikin pusing, bahkan bisa bikin kita malu. Aku pun tidak hanya sekali dua kali mengalami hal ini, motor mogok atau bahkan mobil yang mogok (tapi masih untung saat ada suami). Pusing karena repot tentu, ditambah lagi biaya bengkel yang mahal, tapi gak usah malu lah, EGP? Namun aku masih bersyukur bisa menghadapi kejadian - kejadian itu dengan emosi terkendali, toh ketika di Jogja pun aku juga sering mengalami kejadian begitu. Maklum resiko naik mobil tua ;-(.
Nah...terus apa hubungannya dengan pelajaran mendampingi anak - anak sekolah?
Lha ini masalahnya! Kalau motor atau mobil mogok menurutku lebih mudah menghadapinya daripada anak yang mogok sekolah. Walah..dulu dah pernah mogok sekolah kok sekarang mogok lagi?? Ya, dulu tidak mau sekolah di Sekolah Kebangsaan setelah uji coba sekitar 1 minggu. Nah, sekarang setelah 7 bulan sekolah di Sri Ayesha dengan prestasi akademik yang bagus, e..kok tidak mau sekolah lagi. Memang terasa berat hari - hari menjelang Ramadhan karena Si Sulung Sayyid yang biasanya semangat bersekolah kok menunjukkan gelagat malas - malasan sekolah. What's going on?
Yang sudah kami hapal dari kebiasaan Sayyid ketika ada masalah adalah dia akan bersikap yang diluar kebiasaannya. Contoh ketika masih duduk di kelas 1 SDIT Alam Nurul Islam. Dua hari berturut - turut tiap pagi tidak mau berangkat ke sekolah disertai wajah sedih. Setiap ditanya kenapa gak mau sekolah, sederet alasan disebutkan yang mengandung keganjilan. Misalnya capek olahraga/senam pagi, padahal sebelumnya gak pernah mengeluh dengan kegiatan ini. Atau gak suka pakai seragamnya atau gak mau minum susu sapi setelah olahraga, dll. Sederet solusi pun kami tawarkan tapi tidak ada yang diterima, tetap wajahnya menunjukkan kesedihan bahkan akhirnya menangis (tetapi bukan cengeng). Setelah kuajak bicara dari hati ke hati, mengakulah Sayyid kalau dia sedih karena Abinya akan segera berangkat ke Malaysia lagi. Sayyid pun langsung menangis tergugu, ingin ikut abinya. Betapa sebelumnya dia bahagia bisa sekitar satu bulan bersama dengan Abinya yang sedang cuti Ramadhan dan Lebaran, namun tiba - tiba harus berpisah lagi. Hatiku pun jadi ikut sedih mendengar penuturan polosnya..
Ternyata setelah kami sampaikan hal ini kepada guru kelasnya, Ustadzah Rita, beliau pun cerita bahwa 2 hari yl. Sayyid menangis di sekolah di saat acara bernyanyi di luar kelas. Di tengah keceriaan teman - temannya justru Sayyid bersedih :-(. Akhirnya dimulailah hari - hari yang sulit bersekolah lebih sulit dari pertama beradaptasi masuk ke kelas 1 yang hanya perlu waktu 3 hari. Aku sendiri tidak ingat perlu berapa lama untuk membuat Sayyid stabil lagi menikmati sekolah. Yang jelas kerjasama dan bantuan dari Ustadzah Rita dan Ustadz Budi sebagai wali kelas sangat besar perannya dalam membangkitkan motivasi Sayyid bersekolah.
Untuk sekarang ini masalah mogok sekolah yang muncul lagi memang membuat kami berpikir keras mengatasinya. Komunikasi dengan pihak sekolah sudah dilakukan, saat itu pun serasa sumber masalah sudah diketemukan. Ada rasa takut dalam diri Sayyid di saat teman - teman kelasnya yang nakal dihukum sama gurunya. Ternyata ada beberapa temannya yang nakal dikelompokkan dalam satu bangku dan diposisikan bangkunya di depan sendiri, tepat di depan meja guru kelas. Anak - anak ini dikatakan guru kelas suka nakal, buat ulah, buat gaduh. Kata Sayyid, mereka bisa dapat hukuman ditegur, dicubit, atau dipukul. Sayyid takut meskipun sudah diberi penjelasan bahwa guru tidak marah dengan Sayyid, kalau Sayyid tidak gaduh atau nakal kan tidak dimarahi atau dihukum dst. Kami selalu mendiskusikan hal ini dengan Sayyid, meyakinkannya untuk tidak takut dan mau sekolah lagi, memotivasinya semangat sekolah lagi. Abinya juga akan selalu menekankan apakah Sayyid benar - benar paham dengan penjelasan yang disampaikan akan permasalahan ini. Sayyid bilang sudah paham.
Namun berbagai langkah yang sudah ditempuh untuk mengembalikan Sayyid bersekolah ternyata tidak semudah apa yang diperkirakan. Seakan - akan saat Sayyid ditinggal di ruang Kepala Sekolah dan Direktur Sekolah oleh Abinya atas permintaan Direktur Sekolah sudah memberikan semacam latihan bagi Sayyid untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kelasnya. Direktur pun mengira Sayyid "fine" saat itu. Padahal sudah disampaikan suami bahwa Sayyid mau datang ke sekolah dengan janji ditungguin dulu. Alhasil pas saat aku jemput pulang, Sayyid memprotes tindakan Abi dan menyebutnya telah berbohong pada Sayyid. Tentu kusampaikan pengertian bahwa Direktur lah yang menyuruh Abi meninggalkan Sayyid bla bla.. Tapi Sayyid tidak mau menerima penjelasanku.
Di rumah kami diskusikan dengan Sayyid bagaimana dia di sekolah hari itu. Ternyata saat Sayyid ditinggal di ruang Direktur, akhirnya Sayyid ditinggal sendiri (kukira dimaksudkan agar menenangkan pikiran Sayyid)hingga akhirnya Sayyid menangis. Ada seorang guru perempuan kelas empat(yang suka mengajak bicara Sayyid) menghampiri Sayyid dan mengajaknya bicara lalu mengajaknya masuk kelas. Tampaknya guru ini bisa mengajak Sayyid berkomunikasi dengan baik. Kami dukung Sayyid agar dia besoknya pergi ke sekolah seperti biasanya dulu, seperti saat semangatnya tinggi hingga belajar pun dilakukan atas kesadarannya sendiri dengan rasa senang (sejak kelas 1 sudah tumbuh dalam dirinya kemandirian belajar). Kami pun menjanjikan 'reward' bila dia tambah rajin sekolah.
Besoknya Sayyid masih mau bersekolah meskipun kata suami saat ditinggal wajahnya sedih banget. Tetapi nyatanya itu terakhir kali Sayyid mau sekolah. Tetap saja sampai di rumah Sayyid menyatakan tidak sukanya bersekolah, sudah kami ajak bicara lagi untuk mengetahui masalahnya di mana. Tetapi dari yang kami amati, tampaknya Sayyid tetap merasa tidak nyaman dengan guru kelasnya. Terus menerus kami ajak berkomunikasi untuk memberikan 'support' bagi Sayyid. Berbagai cerita, memori positif pengalamannya bersekolah, dst yang kami rasa bisa menggugah semangatnya tidak mempan juga. Ketika diusulkan pindah kelas yang lain yang katanya lebih kondusif pun tidak mau sama sekali. Bahkan kami iming-imingi hadiah (rekreasi, jatah main game ditambah, beli televisi kebetulan tv rusak dll) tetap tidak mempan. Saatnya menjadi genting karena emosi mulai merasuki kami. Ancaman pun dikeluarkan seperti no school means no game, no tv (include watching tv at neighbour's home), no snack, work at home cleaning the floor etc. Semakin keras kami beri hukuman semakin berontaklah dia. Terkadang dia menerima nego untuk hadiah terutama rekreasi dan beli TV. Mulailah Sayyid menyusun rencana kapan dan ke mana mau rekreasi. Tapi beberapa jam kemudian keraguan muncul lagi di hatinya. Bahkan dia selalu menyatakan ingin pulang ke Indonesia dan sekolah lagi di SDIT Alam Jogja.
Aku pun selalu mengingatkan Sayyid masa - masa sulit dia harus menahan rindu kepada Abinya, keinginannya yang kuat untuk menyusul Abinya harus ditahan menunggu aku bisa cuti diluar tanggungan negara. Bahkan pernah setelah kami kumpul di Malaysia kemudian Abinya ada acara menginap, Sayyid jadi bete banget merasa kehilangan Abinya meski hanya 1 malam. Apalagi ketika ditinggal beberapa malam 'conference' di Pulau Langkawi (bersamaan aku kondisi teler hamil muda)! Lha kalau pulang ke Jogja ya..bisa diprediksi nantinya akan sering bete saat kangen Abinya!
Langkah - langkah yang kami lakukan dalam mengatasi masalah mogok sekolah ini memerlukan waktu yang cukup lama, dan sungguh memeras pikiran. Padahal akhir Oktober Sayyid harus menghadapi tes akhir kenaikan kelas yang bersamaan dengan Hari Perkiraan Lahir bayi yang kukandung. Was - was? Tentu muncul perasaan itu. Demi untuk mengembalikan Sayyid mau sekolah lagi maka kutawarkan kutungguin dulu di sekolah. Itu pun setelah dipaksa akhirnya Sayyid mau, tapi ya itu..dilarang BOHONG! Dalam kondisi hamil tua aku nungguin Sayyid di sekolah. Pihak sekolah tentunya mengharapkan Sayyid ditinggal saja. Aku sih mau - mau saja, tapi JANJI harus ditepati. Biarlah prosesnya bertahap. Mungkin sekilas penilaian orang lain maupun pihak sekolah menitikberatkan kok ditungguin terus. Sedangkan penilaianku ada kemajuan dari raut wajah Sayyid yang di hari pertama wajahnya mau nagis aja. Tapi di hari ke-3 sudah lebih enjoy. Kesempatan di sekolah kugunakan untuk berkomunikasi dengan Direktur, Kepsek, dan guru kelas. Kuceritakan bagaimana karakter Sayyid yang sejak playgroup emosinya naik turun. Kalau lagi semangat jangan ditanya rajinnya, tapi kalau lagi ada masalah mudah 'down' jadi harus dimotivasi dan diajak komunikasi. Info dari pihak sekolah sehari - hari Sayyid ya pendiam, rajin dan prestasi akademik bagus. Tidak dipungkiri memang prestasi akademik bagus padahal Sayyid harus menyesuaikan dengan banyak mata pelajaran berbahasa Inggris, Melayu, Arab dan pelajaran agama dengan tulisan Jawi. Terakhir Sayyid menduduki rangking 4 di kelasnya. Tapi saat aku menungguin di kelas dan di kantor, sangat tampak bahwa Sayyid terlihat pasif, tidak berani berkomunikasi dengan guru. Ini beda banget dengan di TK dan SDIT Alam, di mana dia sangat komunikatif dengan Ustadz dan Ustadzah. Pergaulan dengan guru - guru di Jogja sangat terasa di hati bukan hanya untuk Sayyid, bahkan untuk kami sebagai orang tua.
Maka kami pun memanfaatkan kesempatan berkomunikasi dengan pihak sekolah apa - apa yang tidak memuaskan kami, terutama soal komunikasi antara kami dan guru. Komunikasi ini sudah dimulai dari buku perantara/komunikasi guru dan ortu, juga komunikasi yang kami lakukan lewat sms atau telepon. Sms yang kami kirimkan ke guru kelas lebih sering tidak mendapat respon, dari buku komunikasi juga sering harus kami ulang tulisan kami baru direspon. Akhirnya lama - lama kami enggan berkomunikasi kalau tidak kepepet. Dan di saat aku sudah membuat kesepakatan meninggalkan Sayyid di sekolah dengan guru kelas, ternyata hasilnya tidak memuaskan juga. Sayyid komplain kenapa gak diberitahu, penjelasan pun kuberikan. Intinya ketika pagi itu Sayyid kutinggal di kelas, bukan sikap simpatik yang dilakukan guru untuk menenangkan Sayyid. Tapi saat Sayyid menangis hanya kata - kata "Senyap!..Senyap!" alias menyuruh diam saja yang diucapkan guru (Sayyid cerita ketika perjalanan pulang). PADAHAL AKU SUDAH KOMUNIKASIKAN, tolong ajak Sayyid bercakap = bicara=ngobrol. Tentu agar suasana cair, agar rasa takutnya hilang, dst...yang kalau kita belajar 'communication skill' tentu tau teori bagaimana berkomnikasi dengan orang lain. Lha sama orang dewasa aja kita mesti lihat latar belakang lawan bicara mungkin budayanya, atau pendidikannya, lihat juga suasana hatinya, cara berpikirnya dst. Apalagi berbicara sama anak - anak yang mempunyai cara berpikir berbeda dengan orang dewasa!!
Sudahlah! Memang 'hopeless' juga akhirnya aku dengan penanganan masalah ini oleh guru kelasnya. So...kami akhirnya membuat keputusan besar yang sebenarnya dulu saat di Sekolah Kebangsaan sudah terlintas di benakku. Keputusan apa itu? Ah..bukan waktunya sekarang membeberkan hal ini. Kami sekarang fokus mempersiapkan tes akhir kenaikan kelas untuk Sayyid. Berbagai perencanaan pendidikan untuk Sayyid kami susun ulang. Aku selalu memotivasi diriku sendiri, ingat firman Allah dalam Alquran surat Al Insyirah:5-6: 'Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan', 'Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan'. Ya Allah, semoga Engkau senantiasa memberikan yang terbaik untuk keluarga kami, Amin.
Bagi sebagian orang mengalami kendaraan mogok atau macet benar - benar bikin pusing, bahkan bisa bikin kita malu. Aku pun tidak hanya sekali dua kali mengalami hal ini, motor mogok atau bahkan mobil yang mogok (tapi masih untung saat ada suami). Pusing karena repot tentu, ditambah lagi biaya bengkel yang mahal, tapi gak usah malu lah, EGP? Namun aku masih bersyukur bisa menghadapi kejadian - kejadian itu dengan emosi terkendali, toh ketika di Jogja pun aku juga sering mengalami kejadian begitu. Maklum resiko naik mobil tua ;-(.
Nah...terus apa hubungannya dengan pelajaran mendampingi anak - anak sekolah?
Lha ini masalahnya! Kalau motor atau mobil mogok menurutku lebih mudah menghadapinya daripada anak yang mogok sekolah. Walah..dulu dah pernah mogok sekolah kok sekarang mogok lagi?? Ya, dulu tidak mau sekolah di Sekolah Kebangsaan setelah uji coba sekitar 1 minggu. Nah, sekarang setelah 7 bulan sekolah di Sri Ayesha dengan prestasi akademik yang bagus, e..kok tidak mau sekolah lagi. Memang terasa berat hari - hari menjelang Ramadhan karena Si Sulung Sayyid yang biasanya semangat bersekolah kok menunjukkan gelagat malas - malasan sekolah. What's going on?
Yang sudah kami hapal dari kebiasaan Sayyid ketika ada masalah adalah dia akan bersikap yang diluar kebiasaannya. Contoh ketika masih duduk di kelas 1 SDIT Alam Nurul Islam. Dua hari berturut - turut tiap pagi tidak mau berangkat ke sekolah disertai wajah sedih. Setiap ditanya kenapa gak mau sekolah, sederet alasan disebutkan yang mengandung keganjilan. Misalnya capek olahraga/senam pagi, padahal sebelumnya gak pernah mengeluh dengan kegiatan ini. Atau gak suka pakai seragamnya atau gak mau minum susu sapi setelah olahraga, dll. Sederet solusi pun kami tawarkan tapi tidak ada yang diterima, tetap wajahnya menunjukkan kesedihan bahkan akhirnya menangis (tetapi bukan cengeng). Setelah kuajak bicara dari hati ke hati, mengakulah Sayyid kalau dia sedih karena Abinya akan segera berangkat ke Malaysia lagi. Sayyid pun langsung menangis tergugu, ingin ikut abinya. Betapa sebelumnya dia bahagia bisa sekitar satu bulan bersama dengan Abinya yang sedang cuti Ramadhan dan Lebaran, namun tiba - tiba harus berpisah lagi. Hatiku pun jadi ikut sedih mendengar penuturan polosnya..
Ternyata setelah kami sampaikan hal ini kepada guru kelasnya, Ustadzah Rita, beliau pun cerita bahwa 2 hari yl. Sayyid menangis di sekolah di saat acara bernyanyi di luar kelas. Di tengah keceriaan teman - temannya justru Sayyid bersedih :-(. Akhirnya dimulailah hari - hari yang sulit bersekolah lebih sulit dari pertama beradaptasi masuk ke kelas 1 yang hanya perlu waktu 3 hari. Aku sendiri tidak ingat perlu berapa lama untuk membuat Sayyid stabil lagi menikmati sekolah. Yang jelas kerjasama dan bantuan dari Ustadzah Rita dan Ustadz Budi sebagai wali kelas sangat besar perannya dalam membangkitkan motivasi Sayyid bersekolah.
Untuk sekarang ini masalah mogok sekolah yang muncul lagi memang membuat kami berpikir keras mengatasinya. Komunikasi dengan pihak sekolah sudah dilakukan, saat itu pun serasa sumber masalah sudah diketemukan. Ada rasa takut dalam diri Sayyid di saat teman - teman kelasnya yang nakal dihukum sama gurunya. Ternyata ada beberapa temannya yang nakal dikelompokkan dalam satu bangku dan diposisikan bangkunya di depan sendiri, tepat di depan meja guru kelas. Anak - anak ini dikatakan guru kelas suka nakal, buat ulah, buat gaduh. Kata Sayyid, mereka bisa dapat hukuman ditegur, dicubit, atau dipukul. Sayyid takut meskipun sudah diberi penjelasan bahwa guru tidak marah dengan Sayyid, kalau Sayyid tidak gaduh atau nakal kan tidak dimarahi atau dihukum dst. Kami selalu mendiskusikan hal ini dengan Sayyid, meyakinkannya untuk tidak takut dan mau sekolah lagi, memotivasinya semangat sekolah lagi. Abinya juga akan selalu menekankan apakah Sayyid benar - benar paham dengan penjelasan yang disampaikan akan permasalahan ini. Sayyid bilang sudah paham.
Namun berbagai langkah yang sudah ditempuh untuk mengembalikan Sayyid bersekolah ternyata tidak semudah apa yang diperkirakan. Seakan - akan saat Sayyid ditinggal di ruang Kepala Sekolah dan Direktur Sekolah oleh Abinya atas permintaan Direktur Sekolah sudah memberikan semacam latihan bagi Sayyid untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kelasnya. Direktur pun mengira Sayyid "fine" saat itu. Padahal sudah disampaikan suami bahwa Sayyid mau datang ke sekolah dengan janji ditungguin dulu. Alhasil pas saat aku jemput pulang, Sayyid memprotes tindakan Abi dan menyebutnya telah berbohong pada Sayyid. Tentu kusampaikan pengertian bahwa Direktur lah yang menyuruh Abi meninggalkan Sayyid bla bla.. Tapi Sayyid tidak mau menerima penjelasanku.
Di rumah kami diskusikan dengan Sayyid bagaimana dia di sekolah hari itu. Ternyata saat Sayyid ditinggal di ruang Direktur, akhirnya Sayyid ditinggal sendiri (kukira dimaksudkan agar menenangkan pikiran Sayyid)hingga akhirnya Sayyid menangis. Ada seorang guru perempuan kelas empat(yang suka mengajak bicara Sayyid) menghampiri Sayyid dan mengajaknya bicara lalu mengajaknya masuk kelas. Tampaknya guru ini bisa mengajak Sayyid berkomunikasi dengan baik. Kami dukung Sayyid agar dia besoknya pergi ke sekolah seperti biasanya dulu, seperti saat semangatnya tinggi hingga belajar pun dilakukan atas kesadarannya sendiri dengan rasa senang (sejak kelas 1 sudah tumbuh dalam dirinya kemandirian belajar). Kami pun menjanjikan 'reward' bila dia tambah rajin sekolah.
Besoknya Sayyid masih mau bersekolah meskipun kata suami saat ditinggal wajahnya sedih banget. Tetapi nyatanya itu terakhir kali Sayyid mau sekolah. Tetap saja sampai di rumah Sayyid menyatakan tidak sukanya bersekolah, sudah kami ajak bicara lagi untuk mengetahui masalahnya di mana. Tetapi dari yang kami amati, tampaknya Sayyid tetap merasa tidak nyaman dengan guru kelasnya. Terus menerus kami ajak berkomunikasi untuk memberikan 'support' bagi Sayyid. Berbagai cerita, memori positif pengalamannya bersekolah, dst yang kami rasa bisa menggugah semangatnya tidak mempan juga. Ketika diusulkan pindah kelas yang lain yang katanya lebih kondusif pun tidak mau sama sekali. Bahkan kami iming-imingi hadiah (rekreasi, jatah main game ditambah, beli televisi kebetulan tv rusak dll) tetap tidak mempan. Saatnya menjadi genting karena emosi mulai merasuki kami. Ancaman pun dikeluarkan seperti no school means no game, no tv (include watching tv at neighbour's home), no snack, work at home cleaning the floor etc. Semakin keras kami beri hukuman semakin berontaklah dia. Terkadang dia menerima nego untuk hadiah terutama rekreasi dan beli TV. Mulailah Sayyid menyusun rencana kapan dan ke mana mau rekreasi. Tapi beberapa jam kemudian keraguan muncul lagi di hatinya. Bahkan dia selalu menyatakan ingin pulang ke Indonesia dan sekolah lagi di SDIT Alam Jogja.
Aku pun selalu mengingatkan Sayyid masa - masa sulit dia harus menahan rindu kepada Abinya, keinginannya yang kuat untuk menyusul Abinya harus ditahan menunggu aku bisa cuti diluar tanggungan negara. Bahkan pernah setelah kami kumpul di Malaysia kemudian Abinya ada acara menginap, Sayyid jadi bete banget merasa kehilangan Abinya meski hanya 1 malam. Apalagi ketika ditinggal beberapa malam 'conference' di Pulau Langkawi (bersamaan aku kondisi teler hamil muda)! Lha kalau pulang ke Jogja ya..bisa diprediksi nantinya akan sering bete saat kangen Abinya!
Langkah - langkah yang kami lakukan dalam mengatasi masalah mogok sekolah ini memerlukan waktu yang cukup lama, dan sungguh memeras pikiran. Padahal akhir Oktober Sayyid harus menghadapi tes akhir kenaikan kelas yang bersamaan dengan Hari Perkiraan Lahir bayi yang kukandung. Was - was? Tentu muncul perasaan itu. Demi untuk mengembalikan Sayyid mau sekolah lagi maka kutawarkan kutungguin dulu di sekolah. Itu pun setelah dipaksa akhirnya Sayyid mau, tapi ya itu..dilarang BOHONG! Dalam kondisi hamil tua aku nungguin Sayyid di sekolah. Pihak sekolah tentunya mengharapkan Sayyid ditinggal saja. Aku sih mau - mau saja, tapi JANJI harus ditepati. Biarlah prosesnya bertahap. Mungkin sekilas penilaian orang lain maupun pihak sekolah menitikberatkan kok ditungguin terus. Sedangkan penilaianku ada kemajuan dari raut wajah Sayyid yang di hari pertama wajahnya mau nagis aja. Tapi di hari ke-3 sudah lebih enjoy. Kesempatan di sekolah kugunakan untuk berkomunikasi dengan Direktur, Kepsek, dan guru kelas. Kuceritakan bagaimana karakter Sayyid yang sejak playgroup emosinya naik turun. Kalau lagi semangat jangan ditanya rajinnya, tapi kalau lagi ada masalah mudah 'down' jadi harus dimotivasi dan diajak komunikasi. Info dari pihak sekolah sehari - hari Sayyid ya pendiam, rajin dan prestasi akademik bagus. Tidak dipungkiri memang prestasi akademik bagus padahal Sayyid harus menyesuaikan dengan banyak mata pelajaran berbahasa Inggris, Melayu, Arab dan pelajaran agama dengan tulisan Jawi. Terakhir Sayyid menduduki rangking 4 di kelasnya. Tapi saat aku menungguin di kelas dan di kantor, sangat tampak bahwa Sayyid terlihat pasif, tidak berani berkomunikasi dengan guru. Ini beda banget dengan di TK dan SDIT Alam, di mana dia sangat komunikatif dengan Ustadz dan Ustadzah. Pergaulan dengan guru - guru di Jogja sangat terasa di hati bukan hanya untuk Sayyid, bahkan untuk kami sebagai orang tua.
Maka kami pun memanfaatkan kesempatan berkomunikasi dengan pihak sekolah apa - apa yang tidak memuaskan kami, terutama soal komunikasi antara kami dan guru. Komunikasi ini sudah dimulai dari buku perantara/komunikasi guru dan ortu, juga komunikasi yang kami lakukan lewat sms atau telepon. Sms yang kami kirimkan ke guru kelas lebih sering tidak mendapat respon, dari buku komunikasi juga sering harus kami ulang tulisan kami baru direspon. Akhirnya lama - lama kami enggan berkomunikasi kalau tidak kepepet. Dan di saat aku sudah membuat kesepakatan meninggalkan Sayyid di sekolah dengan guru kelas, ternyata hasilnya tidak memuaskan juga. Sayyid komplain kenapa gak diberitahu, penjelasan pun kuberikan. Intinya ketika pagi itu Sayyid kutinggal di kelas, bukan sikap simpatik yang dilakukan guru untuk menenangkan Sayyid. Tapi saat Sayyid menangis hanya kata - kata "Senyap!..Senyap!" alias menyuruh diam saja yang diucapkan guru (Sayyid cerita ketika perjalanan pulang). PADAHAL AKU SUDAH KOMUNIKASIKAN, tolong ajak Sayyid bercakap = bicara=ngobrol. Tentu agar suasana cair, agar rasa takutnya hilang, dst...yang kalau kita belajar 'communication skill' tentu tau teori bagaimana berkomnikasi dengan orang lain. Lha sama orang dewasa aja kita mesti lihat latar belakang lawan bicara mungkin budayanya, atau pendidikannya, lihat juga suasana hatinya, cara berpikirnya dst. Apalagi berbicara sama anak - anak yang mempunyai cara berpikir berbeda dengan orang dewasa!!
Sudahlah! Memang 'hopeless' juga akhirnya aku dengan penanganan masalah ini oleh guru kelasnya. So...kami akhirnya membuat keputusan besar yang sebenarnya dulu saat di Sekolah Kebangsaan sudah terlintas di benakku. Keputusan apa itu? Ah..bukan waktunya sekarang membeberkan hal ini. Kami sekarang fokus mempersiapkan tes akhir kenaikan kelas untuk Sayyid. Berbagai perencanaan pendidikan untuk Sayyid kami susun ulang. Aku selalu memotivasi diriku sendiri, ingat firman Allah dalam Alquran surat Al Insyirah:5-6: 'Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan', 'Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan'. Ya Allah, semoga Engkau senantiasa memberikan yang terbaik untuk keluarga kami, Amin.
Sunday, October 11, 2009
I'm Back!
Lama tidak menerbitkan tulisan, rasanya gak tahan banget beraksi lagi nge-blog. Padahal beberapa draft sudah lama banget ngendon ngantri diterbitkan. Berhubung gak ada mood untuk menyempurnakan draft, jadi terbengkalai deh new entry-nya. Ide - ide baru sebenarnya sih banyak, tapi selain alasan gak mood (alasan klasik ya ;-))ditambah juga memang lagi semangat banget ngerjakan hal - hal lain di dunia nyata. Emang apaan tuh??
Menjelang Ramadhan yang lalu banyak agenda yang harus diselesaikan sekaligus harus disiapkan juga agenda yang baru. Peluang bisnis alias jualan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dari jualan baju bayi, anak dan dewasa, mukena anak dan dewasa, sprei, baju renang, kerudung sampai pembalut herbal avail. Alhamdulillah menjelang Ramadhan memang prospeknya bagus, lumayan dapat tambahan dana buat beli baju baru anak - anak dan Ummi (afwan Bi, gak dapat yang pas untuk Abi). Sekalian tambahan dana untuk program ibadah di Bulan Ramadhan. Karena jualan ini kerjasama dengan teman - teman otomatis urusan administrasi dan barang cukup menyita waktu juga. Pengin banget nulis di blog khusus aktivitas jualan dan aktivitas Ramadhan e..gak kesampaian.
Agenda yang harus diselesaikan masih banyak lagi, utamanya masalah koordinasi kegiatan pengajian dengan adik - adik TKW yang kerja di Malaysia. Dari menyelesaikan proposal dan koordinasi untuk pelatihan pekerja di Kompleks Sriayu (belum tau nih kelanjutannya)sampai penyusunan program pengajian adik - adik pekerja di Semenyih. Alhamdulillah bisa selesai tugas - tugas di atas berkat kemudahan dari Allah SWT dan bisa posting juga ke website FOKMA http://www.fokma.org/ kegiatan pengajian di Semenyih.
Kusebutkan di atas kemudahan dari Allah SWT, tentu saja karena kondisi kehamilanku inilah yang terasa paling fit dibandingkan 2 kehamilan terdahulu. Bukan hanya harus moving around untuk banyak aktivitas bahkan tidak jarang harus naik tangga sampai lantai 4 atau 5? Wow...alhamdulillah tidak mengganggu kehamilanku.
Pengajian diluar 2 kegiatan di atas masih ada juga yang tidak kalah harus diperhatikan, meskipun ada yang gagal terlaksana seperti pengajian di gang tempat tinggalku Lorong Aman 2a. Namun pengajian yang lain bersama teman - teman, FOKMA dapat berjalan lancar.
Kegiatan Ramadhan untuk keluarga tentu prioritas utama. Dari persiapan berpuasa sejak Bulan Rajab dan Sya'ban sampai menyusun rencana kegiatan Ramadhan. Tidak mudah untuk memulai puasa dengan kondisi hamil. Karena biasanya aku kuat sahur meski dengan air putih saja, tapi untuk ibu hamil mesti sahur makanan bergizi. Pernah suatu hari aku puasa dengan sahur hanya minum air dan suplemen. Akibatnya kepala pening dan badan lemas. Akhirnya dah sampai sore gak kuat ngelanjutin, kubatalin deh puasa hari itu :-(. Si Sulung Sayyid juga berlatih puasa, meski tidak sehari penuh kami tunjukkan penghargaan dan dukungan kami. Jadi biasanya Sayyid berangkat sekolah bawa bekal makan siang, karena latihan puasa Sayyid hanya bawa air putih..katanya jaga - jaga kalau gak tahan haus. Tabel kegiatan Ramadhan sudah siap sebelum Ramadhan, bukan hanya buat keluarga kami sendiri, tetapi kami berikan kepada teman dan tetangga juga.
Bagaimanapun juga dengan melakukan persiapan menyambut Ramadhan akan lebih kondusif bagi peningkatan ibadah di Bulan Suci Ramadhan. Semoga persiapan menyambut Ramadhan di waktu yang akan datang akan lebih bagus lagi.
Menjelang Ramadhan yang lalu banyak agenda yang harus diselesaikan sekaligus harus disiapkan juga agenda yang baru. Peluang bisnis alias jualan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dari jualan baju bayi, anak dan dewasa, mukena anak dan dewasa, sprei, baju renang, kerudung sampai pembalut herbal avail. Alhamdulillah menjelang Ramadhan memang prospeknya bagus, lumayan dapat tambahan dana buat beli baju baru anak - anak dan Ummi (afwan Bi, gak dapat yang pas untuk Abi). Sekalian tambahan dana untuk program ibadah di Bulan Ramadhan. Karena jualan ini kerjasama dengan teman - teman otomatis urusan administrasi dan barang cukup menyita waktu juga. Pengin banget nulis di blog khusus aktivitas jualan dan aktivitas Ramadhan e..gak kesampaian.
Agenda yang harus diselesaikan masih banyak lagi, utamanya masalah koordinasi kegiatan pengajian dengan adik - adik TKW yang kerja di Malaysia. Dari menyelesaikan proposal dan koordinasi untuk pelatihan pekerja di Kompleks Sriayu (belum tau nih kelanjutannya)sampai penyusunan program pengajian adik - adik pekerja di Semenyih. Alhamdulillah bisa selesai tugas - tugas di atas berkat kemudahan dari Allah SWT dan bisa posting juga ke website FOKMA http://www.fokma.org/ kegiatan pengajian di Semenyih.
Kusebutkan di atas kemudahan dari Allah SWT, tentu saja karena kondisi kehamilanku inilah yang terasa paling fit dibandingkan 2 kehamilan terdahulu. Bukan hanya harus moving around untuk banyak aktivitas bahkan tidak jarang harus naik tangga sampai lantai 4 atau 5? Wow...alhamdulillah tidak mengganggu kehamilanku.
Pengajian diluar 2 kegiatan di atas masih ada juga yang tidak kalah harus diperhatikan, meskipun ada yang gagal terlaksana seperti pengajian di gang tempat tinggalku Lorong Aman 2a. Namun pengajian yang lain bersama teman - teman, FOKMA dapat berjalan lancar.
Kegiatan Ramadhan untuk keluarga tentu prioritas utama. Dari persiapan berpuasa sejak Bulan Rajab dan Sya'ban sampai menyusun rencana kegiatan Ramadhan. Tidak mudah untuk memulai puasa dengan kondisi hamil. Karena biasanya aku kuat sahur meski dengan air putih saja, tapi untuk ibu hamil mesti sahur makanan bergizi. Pernah suatu hari aku puasa dengan sahur hanya minum air dan suplemen. Akibatnya kepala pening dan badan lemas. Akhirnya dah sampai sore gak kuat ngelanjutin, kubatalin deh puasa hari itu :-(. Si Sulung Sayyid juga berlatih puasa, meski tidak sehari penuh kami tunjukkan penghargaan dan dukungan kami. Jadi biasanya Sayyid berangkat sekolah bawa bekal makan siang, karena latihan puasa Sayyid hanya bawa air putih..katanya jaga - jaga kalau gak tahan haus. Tabel kegiatan Ramadhan sudah siap sebelum Ramadhan, bukan hanya buat keluarga kami sendiri, tetapi kami berikan kepada teman dan tetangga juga.
Bagaimanapun juga dengan melakukan persiapan menyambut Ramadhan akan lebih kondusif bagi peningkatan ibadah di Bulan Suci Ramadhan. Semoga persiapan menyambut Ramadhan di waktu yang akan datang akan lebih bagus lagi.
Tuesday, July 14, 2009
Nikmatnya Berbekam
Metode pengobatan bekam semakin memasyarakat dewasa ini. Sebagai salah satu cara detoksifikasi, bekam sangat bermanfaat baik untuk pengobatan maupun untuk menjaga kesehatan badan. Lebih istimewa lagi sebagai seorang muslim kita melakukan bekam dengan keyakinan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW sebagaimana sabda beliau :
"Pada malam aku diisra'kan, aku tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata, Wahai Muhammad , suruhlah umatmu melakukan bekam" (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).
Dalam riwayat yang lain beliau juga bersabda :
“Kesembuhan itu berada pada tiga hal, yaitu minum madu, sayatan pisau bekam dan sundutan dengan api (kay). Sesungguhnya aku melarang ummatku (berobat) dengan kay.” (HR Bukhari).
Pertama kali saat aku akan menjalani bekam, rasanya deg-degan juga karena takut merasakan sakit. Tetapi ketika melihat pasien lain yang dibekam tidak kesakitan, maka aku pikir tidak perlu kawatir lagi. Ternyata dibekam memang tidak menyakitkan sebagaimana yang selama ini aku takutkan. Justru saking nikmatnya biasanya aku akan tertidur saat dibekam, dan baru bangun setelah hampir selesai. Setelah dibekam memang paling baik tidur karena setelah darah kotor dibuang ditambah cukup istirahat, saat bagun tidur badan terasa ringan dan sehat. Dengan berbekam kecuali membuang darah kotor yang mestinya rutin dikeluarkan dari tubuh, juga meringankan bahkan menyembuhkan penyakit tertentu.
Ada 2 jenis bekam yang pernah aku dan keluargaku jalani, yaitu bekam basah dan bekam kering. Kalau merunut sunnah Rasulullah tentunya bekam yang dimaksud adalah bekam basah karena darah dikeluarkan dari tubuh. Biasanya aku memanggil teman sebagai pembekam langgananku ke rumah untuk melakukan bekam basah. Tetapi ada saatnya kita tidak punya banyak waktu sementara keluhan kesehatan misal sakit kepala sudah tidak tertahankan (kondisi badan demam tidak dibolehkan bekam basah). Dengan menyediakan alat bekam di rumah, maka kami dapat melakukan bekam kering secukupnya untuk meredakan sakit kepala. Selama bisa diatasi dengan bekam saja, maka tidak diperlukan minum obat-obatan terlebih yang terbuat dari bahan kimia. Setelah melakukan bekam kering sebaiknya minum air putih yang banyak agar kotoran pada darah terbuang bersama air kencing.
Pengalaman dari keluargaku berikut bisa menjadi bukti manfaat bekam :
1. Anak laki-laki kami sejak kelas 1 SD dan anak perempuan kami sejak berumur 4th. saat batuk berat (Bhs. Jawa : ngikil) kami bekam kering pada titik - titik bekam bagian di bawah tengkuk dan punggung atas biasanya sebanyak 5 titik. Batuk cepat reda, kalau kita perhatikan batuknya perlu disembuhkan dengan obat biasanya kita minumkan klorofil dan/atau propolis.
2. Suamiku ketika badannya capek dan pegal - pegal cukup dibekam cepat pulih kondisi fisiknya.
3. Sakit tulang punggungku bagian bawah reda setelah dibekam pada bagian yang sakit, tetapi bukan di tulang belakangnya melainkan samping kanan kiri tulang belakang.
4. Lain - lain keluhan yang pernah kami atasi dengan bekam seperti sakit kepala dan masuk angin.
Nah, bagi yang belum pernah berbekam lekas lakukan bekam. Jangan menunggu sakit dulu, tapi untuk menjaga kesehatan dengan mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Jangan lupa perhatikan alat - alat bekam yang digunakan senantiasa terjaga kebersihannya dan hygienis.
"Pada malam aku diisra'kan, aku tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata, Wahai Muhammad , suruhlah umatmu melakukan bekam" (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).
Dalam riwayat yang lain beliau juga bersabda :
“Kesembuhan itu berada pada tiga hal, yaitu minum madu, sayatan pisau bekam dan sundutan dengan api (kay). Sesungguhnya aku melarang ummatku (berobat) dengan kay.” (HR Bukhari).
Pertama kali saat aku akan menjalani bekam, rasanya deg-degan juga karena takut merasakan sakit. Tetapi ketika melihat pasien lain yang dibekam tidak kesakitan, maka aku pikir tidak perlu kawatir lagi. Ternyata dibekam memang tidak menyakitkan sebagaimana yang selama ini aku takutkan. Justru saking nikmatnya biasanya aku akan tertidur saat dibekam, dan baru bangun setelah hampir selesai. Setelah dibekam memang paling baik tidur karena setelah darah kotor dibuang ditambah cukup istirahat, saat bagun tidur badan terasa ringan dan sehat. Dengan berbekam kecuali membuang darah kotor yang mestinya rutin dikeluarkan dari tubuh, juga meringankan bahkan menyembuhkan penyakit tertentu.
Ada 2 jenis bekam yang pernah aku dan keluargaku jalani, yaitu bekam basah dan bekam kering. Kalau merunut sunnah Rasulullah tentunya bekam yang dimaksud adalah bekam basah karena darah dikeluarkan dari tubuh. Biasanya aku memanggil teman sebagai pembekam langgananku ke rumah untuk melakukan bekam basah. Tetapi ada saatnya kita tidak punya banyak waktu sementara keluhan kesehatan misal sakit kepala sudah tidak tertahankan (kondisi badan demam tidak dibolehkan bekam basah). Dengan menyediakan alat bekam di rumah, maka kami dapat melakukan bekam kering secukupnya untuk meredakan sakit kepala. Selama bisa diatasi dengan bekam saja, maka tidak diperlukan minum obat-obatan terlebih yang terbuat dari bahan kimia. Setelah melakukan bekam kering sebaiknya minum air putih yang banyak agar kotoran pada darah terbuang bersama air kencing.
Pengalaman dari keluargaku berikut bisa menjadi bukti manfaat bekam :
1. Anak laki-laki kami sejak kelas 1 SD dan anak perempuan kami sejak berumur 4th. saat batuk berat (Bhs. Jawa : ngikil) kami bekam kering pada titik - titik bekam bagian di bawah tengkuk dan punggung atas biasanya sebanyak 5 titik. Batuk cepat reda, kalau kita perhatikan batuknya perlu disembuhkan dengan obat biasanya kita minumkan klorofil dan/atau propolis.
2. Suamiku ketika badannya capek dan pegal - pegal cukup dibekam cepat pulih kondisi fisiknya.
3. Sakit tulang punggungku bagian bawah reda setelah dibekam pada bagian yang sakit, tetapi bukan di tulang belakangnya melainkan samping kanan kiri tulang belakang.
4. Lain - lain keluhan yang pernah kami atasi dengan bekam seperti sakit kepala dan masuk angin.
Nah, bagi yang belum pernah berbekam lekas lakukan bekam. Jangan menunggu sakit dulu, tapi untuk menjaga kesehatan dengan mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Jangan lupa perhatikan alat - alat bekam yang digunakan senantiasa terjaga kebersihannya dan hygienis.
Monday, June 22, 2009
Peta Minded
Setiap orang mungkin pernah atau bahkan sering mencari lokasi suatu tempat untuk tujuan tertentu. Ada orang yang mencari suatu tempat berbekal alamat lengkap atau cukup dengan denah ditambah sedikit informasi nomor rumah. Ada pula orang yang mencari suatu alamat tanpa dilengkapi denah dan hanya sedikit informasi saja. Tentunya keberhasilan kita menemukan lokasi tempat yang dituju sangat didukung dan dimudahkan oleh data/informasi yang lengkap.
Suatu saat seseorang bertanya kepada kita tentang lokasi suatu tempat, biasanya kita akan menunjukkan lokasi yang dimaksud secara lisan saja. Kita akan memberikan petunjuk berdasarkan arah misalnya rumah si A di Jalan Monjali (Monumen Jogja Kembali) No 111, dari perempatan Ringroad-Monjali ke arah selatan 200M. Di sebelah kanan jalan ada toko besi, rumah si A sebelah kanan toko besi itu.
Tentu untuk lokasi yang aksesnya mudah dari jalan utama akan mudah ditemukan pula dengan arahan seperti di atas. Tetapi untuk lokasi yang aksesnya sulit seperti pemukiman di tepi sungai yang padat penduduk, rumah teman di desa yang banyak tidak menggunakan nomor rumah ataupun lokasi suatu tempat yang benar - benar asing, kita akan kesulitan menemukannya apabila petunjuk menuju lokasi hanya seperti arahan di atas.
Masih banyak orang yang belum terpikir untuk menggunakan peta dalam menunjukkan suatu lokasi, bisa dikatakan belum peta minded. Bahkan sebagian orang kurang paham membaca peta, sehingga ketika disodorkan peta lokasi masih kesulitan memahami petunjuk menuju lokasi. Peta dalam konteks ini tentunya berbeda dengan peta dalam Ilmu Geodesi yang mempunyai pengertian ilmiah menyangkut unsur skala, bidang proyeksi, sistem proyeksi dll. Ada yang lebih senang menyebutnya denah. Saya menyebutnya peta karena lebih mudah dipahami.
Bagi pengguna internet sangat mudah mendapatkan informasi lokasi suatu tempat dengan menggunakan google map. Keberhasilan menemukan lokasi di lapangan bergantung kepada Si Pembaca google map apakah dia mampu membaca/memahami informasi yang termuat pada google map ketika di lapangan atau malah bingung. Dalam hal ini informasi mengenai lokasi bisa dikatakan lengkap karena tersedia peta (data spasial) dan nama - nama tempat termasuk nama jalan (data atribut).
Namun di Indonesia baru sedikit yang menggunakan internet apalagi internet mobile. Jadi untuk memberikan informasi lokasi kepada orang lain hendaknya terbiasa menggambarkan dalam suatu peta. Dan sebaliknya ketika membaca peta yang diberikan orang lain sempatkan mencermati peta itu terlebih dahulu sehingga bisa berkesempatan menanyakan data atribut yang tidak jelas.
Saya pernah memberikan peta lokasi rumah saya kepada teman - teman saya. Saya sudah menjelaskan pula melalui whiteboard lokasi rumah saya yang agak jauh di desa dan keluar masuk gang. Saya beri kata kunci antara lain : pohon beringin. Tetapi letak pohon beringin ini khas karena arah jalan mentog di pohon beringin ini. Tampaknya tidak semua teman - teman memperhatikan secara lengkap informasi ini. Saya sendiri tidak menyangka ada pohon beringin sebelum pohon beringin yang saya maksudkan. Alhasil tidak semua teman bisa langsung menemukan rumah saya. Yang tidak cermat melihat peta dan tidak memperhatikan informasi secara rinci letak pohon beringin akhirnya tersasar. Mereka sudah bertanya tetapi yang ditanya tidak tau letak RT saya, apalagi nama saya. Saya sekeluarga adalah pendatang dan yang ditanya pun bisa jadi pendatang juga, karena ada perumahan baru di sekitar pohon beringin itu. Bagaimanapun pengalaman atau kecerdikan seseorang berpengaruh dalam usahanya keluar dari masalah seperti ini. Saya tanya mereka, kenapa tidak tanya rumah pak dukuh saja. Atau cobalah keluar dari keterpakuan kita dalam hal ini pohon beringin. Pun sebenarnya letak pohon beringin pada peta yang saya buat persis di tengah arah jalan, sedangkan pohon beringin yang keliru itu letaknya di belokan menyamping, jadi jelas beda kan? Jangan terpaku pada satu hal, informasi yang lain baik yang tercantum di peta maupun pengetahuan yang ada pada kita dapat kita gunakan. Misalnya saya tulis jarak jalan masuk sampai pohon beringin sekitar 800M, padahal pohon beringin yang keliru hanya sekitar 300M. Bahkan kalau kita terlalu bingung tidak ada salahnya kita kembali pada posisi sebelum muncul kebingungan itu. Kita telusuri lagi secara cermat (mengulang) jalan yang harus dilalui sesuai peta. Untungnya ada handphone, apa boleh buat saya pun harus menjemput mereka he..he ..he.
Alhamdulillah selama di Malaysia ini, sudah sering bepergian baik lokal Kajang Bangi maupun yang cukup jauh Port Dickson, bahkan ketika keliling Melaka saat liburan dapat terlaksana dengan lancar. Sebelum perjalanan sudah kami siapkan cetak peta google map. Terakhir perjalanan bareng - bareng ke Semenyih bersama teman - teman ee.. kok 2 mobil yang lain kesasar padahal satu mobil dilengkapi peta sementara mobil lainnya mengikut di belakang. Saya sendiri berbekal sms teman yang menunjukkan lokasi tujuan meski tidak lengkap namun sudah cek di google map dibantu suami dan 3 kata kunci yang jadi pegangan saya. Hmm...pengalaman kesasar baik kita sendiri maupun orang lain memang bisa menjadi pelajaran untuk kita membuat persiapan terlebih dahulu sebelum menuju lokasi. Dan pelajaran juga berikan informasi kepada orang lain lokasi suatu tempat secara jelas dan mudah dipahami.
Monday, April 20, 2009
Menjaga Pergaulan Terhadap Lawan Jenis
Tulisan berikut kuambil dari http://www.eramuslim.com
Tanya jawab semacam ini sebenarnya sudah sering kudengar atau kubaca, tetapi sebagaimana sifat manusia mudah lalai akupun belum bisa kontinyu mengaplikasikannya dalam keseharianku. Maka dengan kumuat diblog ini semoga senantiasa mengingatkan aku dan siapapun yang membacanya.Bergaul dengan Lawan Jenis
Selasa, 31/03/2009 11:33 WIB
Ustadz, gimana mengatur hubungan dengan lawan jenis terutama di dalam pendidikan, terutama dalam kaitan menjaga hubungan baik tetapi tetap syar'i, karena terkadang kalo kita berusaha menjaga pandangan dan jarak dengan lawan jenis kita malah sering dianggap aneh atau sok alim dan sebagainya
Yasin
Jawaban
Wa’alaikum salam wr. wb.
Ananda Akhmad yang disayangi Allah SWT, Anda menanyakan bagiamana cara berhubungan dengan lawan jenis terutama dalam bidang pendidikan. Sebenarnya prinsip pergaulan dengan lawan jenis menurut Islam berlaku dimana-mana, termasuk di dunia pendidikan. Namun dalam pendidikan ada unsur dharuriyat yang membolehkan guru dan murid untuk saling memandang (tanpa syahwat). Hal yang sama juga berlaku dalam kesaksian, peminangan (khithbah), dan transaksi jual beli.
Ananda Akhmad yang dimualiakan Allah SWT, beberapa prinsip pergaulan dengan lawan jenis dalam dalam dunia pendidikan antara lain adalah :
1. Sebaiknya wanita diajar oleh seorang wanita pula. Namun jika tidak ada wanita yang mampu mengajar dengan baik, kaum wanita boleh diajar oleh laki-laki.
2. Agar tidak terjadi khalwat, maka laki-laki tidak boleh hanya mengajar satu orang wanita saja tanpa adanya pihak ketiga yang bisa menjadi kontrol bagi keduanya.
3. Pengajar laki-laki tersebut harus bisa menjaga kehormatan dirinya dengan cara menjaga pandangannya dan menghindari pembicaraan yang menimbulkan fitnah, baik dari isi pembicaraannya maupun cara berbicaranya.
4. Hendaknya sedapat mungkin menghindari segala bentuk fitnah. Oleh karena itu jika terdapat dua orang pengajar laki-laki yang sama kemampuan mengajarnya akan tetapi salah satunya mendatangkan fitnah yang lebih besar (misalnya karena faktor penampilan atau karena faktor usia) maka hendaknya yang mengajar adalah yang fitnahnya lebih kecil.
5. Tidak hanya sang pengajar laki-laki yang harus menjaga kehormatan dirinya, tetapi juga para wanita yang diajarnya, yakni mereka juga harus menjaga pandangannya (palingkan atau tundukkan pandangan jika muncul fitnah) dan menghindari pembicaraan yang menimbulkan fitnah, baik dari isi pembicaraannya maupun cara berbicaranya.
Ada pun rambu-rambu pergaulan dengan lawan jenis secara umum adalah sebagai berikut :
1. Pembicaran seperlunya.
Bicaralah dengan lawan jenis seperlunya saja (hanya sebatas pekerjaan). Jangan memasuki pembicaraan yang berlebihan dan menyinggung ranah pribadi. Juga jangan banyak bercanda. Apalagi bercanda yang mesum atau menjurus ke masalah seksual. Hindari juga berbicara dengan suara yang dibuat-buat, merayu, dan mesra sebagaimana firman Allah SWT : “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. 33 : 33). Walaupun ayat ini ditujukan kepada isteri-isteri Nabi, akan tetapi para ulama sepakat bahwa larangan di atas berlaku untuk seluruh wanita (dan juga lelaki). Hal ini bukan berarti kita tidak boleh bersikap ramah dengan lawan jenis. Senyum, salam dan omongan basa-basi tetap perlu dilakukan, sehingga kita tidak terkesan sebagai orang yang kaku dengan lawan jenis.
2. Menjaga pandangan.
Dalam bergaul dengan lawan jenis, kita dilarang untuk saling berpandangan dalam waktu yang lama. Apalagi dengan pandangan yang mengandung unsur menggoda. Allah berfirman : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya" (QS. 24 : 30-31). Jadi sekilas-sekilas saja kita memandang lawan jenis ketika mengobrol. Sebab sulit juga kita berbicara kalau sama sekali tidak melihat lawan bicara kita. Bukankah dalam berbicara kita juga perlu memperhatikan gestur (body language) dari lawan bicara agar komunikasi efektif?
3. Menutup aurat.
Dalam pergaulan, diwajibkan juga bagi lelaki dan perempuan untuk menutup aurat. Jumhur ulama sepakat aurat lelaki adalah dari pusar sampai lutut. Sedang aurat perempuan adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Namun berlaku juga bagi keduanya untuk tidak berpakaian yang ketat, transparan dan menyerupai pakaian lawan jenis (lelaki berpakaian seperti perempuan atau sebaliknya perempuan yangberpakaian seperti lelaki). Allah berfirman untuk wanita : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. 33 : 59).
4. Larangan berkhalwat.
Tidak diperbolehkan bagi seorang lelaki atau perempuan untuk berdua-duaan, baik di tempat sepi maupun ramai. Termasuk tidak diperbolehkan pergi berduaan satu kendaraan (motor atau mobil) dengan alasan apa pun. Sebab hal tersebut dapat menjerumuskan kedua belah pihak pada zina. Sedang kita dilarang untuk mendekati zina. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. 17 : 32). Rasulullah bersabda: “Janganlah lelaki dan perempuan berkhalwat (berdua-duaan), karena yang ketiganya adalah syetan” (muttafaq alaihi).
5. Larangan berhias berlebihan.
Baik lelaki dan perempuan dilarang memakai perhiasan yang berlebihan (seronok) dan merangsang lawan jenis. Lelaki dilarang untuk memakai emas, kalung dan anting (kalau cincin bukan emas diperbolehkan). Wanita dilarang untuk memakai wewangian yang harum dan menunjukkan perhiasan yang berlebihan, seperti memakai kutek, tato, maskara, dan semacamnya. Allah berfirman : “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya” (QS. 33 : 33).
Demikian jawaban saya. Semoga bermanfaat.
Salam Berkah!
(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan
Tanya jawab semacam ini sebenarnya sudah sering kudengar atau kubaca, tetapi sebagaimana sifat manusia mudah lalai akupun belum bisa kontinyu mengaplikasikannya dalam keseharianku. Maka dengan kumuat diblog ini semoga senantiasa mengingatkan aku dan siapapun yang membacanya.Bergaul dengan Lawan Jenis
Selasa, 31/03/2009 11:33 WIB
Ustadz, gimana mengatur hubungan dengan lawan jenis terutama di dalam pendidikan, terutama dalam kaitan menjaga hubungan baik tetapi tetap syar'i, karena terkadang kalo kita berusaha menjaga pandangan dan jarak dengan lawan jenis kita malah sering dianggap aneh atau sok alim dan sebagainya
Yasin
Jawaban
Wa’alaikum salam wr. wb.
Ananda Akhmad yang disayangi Allah SWT, Anda menanyakan bagiamana cara berhubungan dengan lawan jenis terutama dalam bidang pendidikan. Sebenarnya prinsip pergaulan dengan lawan jenis menurut Islam berlaku dimana-mana, termasuk di dunia pendidikan. Namun dalam pendidikan ada unsur dharuriyat yang membolehkan guru dan murid untuk saling memandang (tanpa syahwat). Hal yang sama juga berlaku dalam kesaksian, peminangan (khithbah), dan transaksi jual beli.
Ananda Akhmad yang dimualiakan Allah SWT, beberapa prinsip pergaulan dengan lawan jenis dalam dalam dunia pendidikan antara lain adalah :
1. Sebaiknya wanita diajar oleh seorang wanita pula. Namun jika tidak ada wanita yang mampu mengajar dengan baik, kaum wanita boleh diajar oleh laki-laki.
2. Agar tidak terjadi khalwat, maka laki-laki tidak boleh hanya mengajar satu orang wanita saja tanpa adanya pihak ketiga yang bisa menjadi kontrol bagi keduanya.
3. Pengajar laki-laki tersebut harus bisa menjaga kehormatan dirinya dengan cara menjaga pandangannya dan menghindari pembicaraan yang menimbulkan fitnah, baik dari isi pembicaraannya maupun cara berbicaranya.
4. Hendaknya sedapat mungkin menghindari segala bentuk fitnah. Oleh karena itu jika terdapat dua orang pengajar laki-laki yang sama kemampuan mengajarnya akan tetapi salah satunya mendatangkan fitnah yang lebih besar (misalnya karena faktor penampilan atau karena faktor usia) maka hendaknya yang mengajar adalah yang fitnahnya lebih kecil.
5. Tidak hanya sang pengajar laki-laki yang harus menjaga kehormatan dirinya, tetapi juga para wanita yang diajarnya, yakni mereka juga harus menjaga pandangannya (palingkan atau tundukkan pandangan jika muncul fitnah) dan menghindari pembicaraan yang menimbulkan fitnah, baik dari isi pembicaraannya maupun cara berbicaranya.
Ada pun rambu-rambu pergaulan dengan lawan jenis secara umum adalah sebagai berikut :
1. Pembicaran seperlunya.
Bicaralah dengan lawan jenis seperlunya saja (hanya sebatas pekerjaan). Jangan memasuki pembicaraan yang berlebihan dan menyinggung ranah pribadi. Juga jangan banyak bercanda. Apalagi bercanda yang mesum atau menjurus ke masalah seksual. Hindari juga berbicara dengan suara yang dibuat-buat, merayu, dan mesra sebagaimana firman Allah SWT : “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. 33 : 33). Walaupun ayat ini ditujukan kepada isteri-isteri Nabi, akan tetapi para ulama sepakat bahwa larangan di atas berlaku untuk seluruh wanita (dan juga lelaki). Hal ini bukan berarti kita tidak boleh bersikap ramah dengan lawan jenis. Senyum, salam dan omongan basa-basi tetap perlu dilakukan, sehingga kita tidak terkesan sebagai orang yang kaku dengan lawan jenis.
2. Menjaga pandangan.
Dalam bergaul dengan lawan jenis, kita dilarang untuk saling berpandangan dalam waktu yang lama. Apalagi dengan pandangan yang mengandung unsur menggoda. Allah berfirman : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya" (QS. 24 : 30-31). Jadi sekilas-sekilas saja kita memandang lawan jenis ketika mengobrol. Sebab sulit juga kita berbicara kalau sama sekali tidak melihat lawan bicara kita. Bukankah dalam berbicara kita juga perlu memperhatikan gestur (body language) dari lawan bicara agar komunikasi efektif?
3. Menutup aurat.
Dalam pergaulan, diwajibkan juga bagi lelaki dan perempuan untuk menutup aurat. Jumhur ulama sepakat aurat lelaki adalah dari pusar sampai lutut. Sedang aurat perempuan adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Namun berlaku juga bagi keduanya untuk tidak berpakaian yang ketat, transparan dan menyerupai pakaian lawan jenis (lelaki berpakaian seperti perempuan atau sebaliknya perempuan yangberpakaian seperti lelaki). Allah berfirman untuk wanita : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. 33 : 59).
4. Larangan berkhalwat.
Tidak diperbolehkan bagi seorang lelaki atau perempuan untuk berdua-duaan, baik di tempat sepi maupun ramai. Termasuk tidak diperbolehkan pergi berduaan satu kendaraan (motor atau mobil) dengan alasan apa pun. Sebab hal tersebut dapat menjerumuskan kedua belah pihak pada zina. Sedang kita dilarang untuk mendekati zina. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. 17 : 32). Rasulullah bersabda: “Janganlah lelaki dan perempuan berkhalwat (berdua-duaan), karena yang ketiganya adalah syetan” (muttafaq alaihi).
5. Larangan berhias berlebihan.
Baik lelaki dan perempuan dilarang memakai perhiasan yang berlebihan (seronok) dan merangsang lawan jenis. Lelaki dilarang untuk memakai emas, kalung dan anting (kalau cincin bukan emas diperbolehkan). Wanita dilarang untuk memakai wewangian yang harum dan menunjukkan perhiasan yang berlebihan, seperti memakai kutek, tato, maskara, dan semacamnya. Allah berfirman : “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya” (QS. 33 : 33).
Demikian jawaban saya. Semoga bermanfaat.
Salam Berkah!
(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan
Saturday, April 18, 2009
Introspeksi
Alhamdulillah, setelah lama tidak menulis akhirnya hari ini bisa lagi nge-blog. Dua bulan terakhir memang terasa berat secara fisik dan psikis terkait kondisi hamil mudaku. Capek, mual dan pening bahkan sembelit memang biasa dialami seorang ibu yang sedang hamil muda. Tetapi ada satu lagi yang sangat berat kurasakan yaitu sakit perut yang hampir tiap hari kurasakan. Sakit perut ini akibat udara/gas yang terlalu banyak di perut. Kehamilan pertama dan kedua biasa mual tetapi sakit perut saat ini yang paling berat.
Bila kuamati diriku sendiri dalam kondisi di atas ada hasil pengamatannya yang patut kurenungi. Iyalah TIDAK SABAR. Aku belum teruji kesabarannya dalam menghadapi sakit ini. Terbukti dengan banyak mengeluh dan ibadah turun. Aku selalu kagum bila membaca kisah orang - orang yang sabar baik ketika sempit maupun lapang. Orang - orang yang tetap stabil bahkan meningkat ibadahnya saat kondisi fisik mereka lemah. Mengapakah aku tidak bisa mencontoh kesabaran dan keistiqomahan mereka?
BTW, hari - hari terakhir kesehatanku sudah lebih baik. Semoga semakin stabil, sehingga aktivitas harian bisa segera pulih kembali.
Bila kuamati diriku sendiri dalam kondisi di atas ada hasil pengamatannya yang patut kurenungi. Iyalah TIDAK SABAR. Aku belum teruji kesabarannya dalam menghadapi sakit ini. Terbukti dengan banyak mengeluh dan ibadah turun. Aku selalu kagum bila membaca kisah orang - orang yang sabar baik ketika sempit maupun lapang. Orang - orang yang tetap stabil bahkan meningkat ibadahnya saat kondisi fisik mereka lemah. Mengapakah aku tidak bisa mencontoh kesabaran dan keistiqomahan mereka?
BTW, hari - hari terakhir kesehatanku sudah lebih baik. Semoga semakin stabil, sehingga aktivitas harian bisa segera pulih kembali.
Sunday, March 15, 2009
Bad First Experience
I ever promised to tell the reason why Sayyid didn't continue to SK ..
Firstly Sayyid went to school, my husband accompanied him even in the class. Sayyid still worried with different situation between his old school and his new school. Several teachers understood him and permitted Sayyid accompanied by his father. It's ok. But in that first day, for the first time Sayyid and my husband saw a teacher taught the pupils with hard pressure. In the classroom, that teacher spoke to the pupils loudly (Bhs. Indonesia: membentak) and even hit the blackboard hardly by stick/rotan in order to make the class become silent. I was so shocked when my husband told me about this. It was Sayyid's bad experience that made me so stressed.
I won't tell the detail of the first week Sayyid came to school. The important things are the reason we stopped Sayyid study at that school. Here they are:
1. The system of education
The education just oriented on academic report. There were no integrating system between general subjects and islamic subjects. It was so different from Integrated Islamic school in Jogja, that build an integrated system of all subjects and activity to educate the children.
2. The behaviour of most teachers showed that they weren't friendly and understand children's world.
3. The communication skill of most teachers to children didn't good enough. I saw it by myself when i accompanied my son in the class.
4. The situation of the class and school we think won't be condusive to develop and explore Sayyid's potential of multiple intellegencies.
So, it was so different with our vision and mission to give integrated education related to IQ, EQ and SQ. And it should be teachers always teach with love and positive behaviour, so children's will like learning everything in school and their brain will be developing optimum, also good methode of teaching can build their character. It's our homework to search an alternative school for our son.
Firstly Sayyid went to school, my husband accompanied him even in the class. Sayyid still worried with different situation between his old school and his new school. Several teachers understood him and permitted Sayyid accompanied by his father. It's ok. But in that first day, for the first time Sayyid and my husband saw a teacher taught the pupils with hard pressure. In the classroom, that teacher spoke to the pupils loudly (Bhs. Indonesia: membentak) and even hit the blackboard hardly by stick/rotan in order to make the class become silent. I was so shocked when my husband told me about this. It was Sayyid's bad experience that made me so stressed.
I won't tell the detail of the first week Sayyid came to school. The important things are the reason we stopped Sayyid study at that school. Here they are:
1. The system of education
The education just oriented on academic report. There were no integrating system between general subjects and islamic subjects. It was so different from Integrated Islamic school in Jogja, that build an integrated system of all subjects and activity to educate the children.
2. The behaviour of most teachers showed that they weren't friendly and understand children's world.
3. The communication skill of most teachers to children didn't good enough. I saw it by myself when i accompanied my son in the class.
4. The situation of the class and school we think won't be condusive to develop and explore Sayyid's potential of multiple intellegencies.
So, it was so different with our vision and mission to give integrated education related to IQ, EQ and SQ. And it should be teachers always teach with love and positive behaviour, so children's will like learning everything in school and their brain will be developing optimum, also good methode of teaching can build their character. It's our homework to search an alternative school for our son.
Friday, March 6, 2009
Kemuliaan Mujahid Palestina
Dari Cybersabili diberitakan aktivis Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) telah sampai di Jakarta 7 Pebruari 2009. Dalam jumpa pers disampaikan bagaimana pengecutnya tentara Israel yang hanya berani menyerang anak - anak Palestina. Bahkan pasukan tank mereka tidak berani menginjak bumi saat memasuki Gaza. Mereka buang air besar dan air kecil di tank, sehingga menimbulkan bau busuk dari dalam tank.
Terlintas di dalam pikiranku, alangkah memalukannya tindakan para zionis itu. Allah telah menanamkan rasa takut dalam diri mereka. Sungguh berbeda dengan pejuang HAMAS yang berebut untuk syahid. Mereka merupakan prajurit - prajurit sejati yang menjual jiwa mereka kepada Allah Sang Pemilik Jiwa.
Dari wawancara Cybersabili dengan Dr. Jose Rizal (Ketua Presidium Medical Emergency Resque Commitee-MER-C) antara lain disebutkan :
Selain kemampuan militer, hafal al-Qur’an juga menjadi standar minimal menjadi pejuang Hamas?
Betul. Standar al-Qur’an ini sangat menarik, karena anggota Brigade Izzuddin al-Qassam rata-rata hafal al-Qur’an. Jadi, pada saat menunggu akan melakukan serangan, mereka menghafal dan menghayati ayat-ayat Ilahi, bukan minum kopi, merokok, apalagi ngegosip. Dari berbagai sumber, saya memperoleh informasi bahwa, setiap pejuang Hamas hanya dibekali dengan jatah minuman seukuran botol Aqua 250 ml dan makanan sekadarnya untuk 2 hari. Padahal, dalam sebuah front pertempuran bisa jadi pejuang-pejuang Hamas harus bertempur lebih dari sepekan.
Subhanallah. Ruh jihad telah menyatu dalam jiwa dan jasad mereka. Sungguh mulia orang -orang yang teguh berpegang pada tali agama Allah yang kokoh. Yaa Allah, berikanlah selalu pertolongan, keteguhan iman dan rahmat Engkau kepada Saudara - saudara kami dan kepada para Mujahid di Palestina.
Yaa Allah, berilah pula kekuatan kepada kami untuk menjadi muslim sejati sebagaimana Mujahid - mujahid Palestina. Ampunilah kami atas kelemahan diri kami. Kami belum memiliki ketangguhan sebagaimana tangguhnya rakyat Palestina menghadapi kekejian teroris.
Allahu Akbar!
Terlintas di dalam pikiranku, alangkah memalukannya tindakan para zionis itu. Allah telah menanamkan rasa takut dalam diri mereka. Sungguh berbeda dengan pejuang HAMAS yang berebut untuk syahid. Mereka merupakan prajurit - prajurit sejati yang menjual jiwa mereka kepada Allah Sang Pemilik Jiwa.
Dari wawancara Cybersabili dengan Dr. Jose Rizal (Ketua Presidium Medical Emergency Resque Commitee-MER-C) antara lain disebutkan :
Selain kemampuan militer, hafal al-Qur’an juga menjadi standar minimal menjadi pejuang Hamas?
Betul. Standar al-Qur’an ini sangat menarik, karena anggota Brigade Izzuddin al-Qassam rata-rata hafal al-Qur’an. Jadi, pada saat menunggu akan melakukan serangan, mereka menghafal dan menghayati ayat-ayat Ilahi, bukan minum kopi, merokok, apalagi ngegosip. Dari berbagai sumber, saya memperoleh informasi bahwa, setiap pejuang Hamas hanya dibekali dengan jatah minuman seukuran botol Aqua 250 ml dan makanan sekadarnya untuk 2 hari. Padahal, dalam sebuah front pertempuran bisa jadi pejuang-pejuang Hamas harus bertempur lebih dari sepekan.
Subhanallah. Ruh jihad telah menyatu dalam jiwa dan jasad mereka. Sungguh mulia orang -orang yang teguh berpegang pada tali agama Allah yang kokoh. Yaa Allah, berikanlah selalu pertolongan, keteguhan iman dan rahmat Engkau kepada Saudara - saudara kami dan kepada para Mujahid di Palestina.
Yaa Allah, berilah pula kekuatan kepada kami untuk menjadi muslim sejati sebagaimana Mujahid - mujahid Palestina. Ampunilah kami atas kelemahan diri kami. Kami belum memiliki ketangguhan sebagaimana tangguhnya rakyat Palestina menghadapi kekejian teroris.
Allahu Akbar!
Subscribe to:
Posts (Atom)