Seorang teman bercerita, anak-anaknya mulai mengucapkan kata-kata yang buruk belakangan ini. Selidik punya selidik ternyata gurunya tak lain adalah film-film kartun di televisi. Anaknya padahal anak perempuan yang sifatnya kalem seusia Asya. Bagaimana lagi jika anak yang energik menonton tayangan-tayangan penuh kekerasan semacam naruto atau film-film kartun lucu yang mengajarkan pukul-pukulan. Lain lagi dengan tetangga saya, justru dia membiarkan anak-anaknya menonton televisi sesuai keinginannya dengan alasan kasihan sudah sekolah full, pagi sekolah agama sementara siang sekolah umum. Jadi televisi menjadi hiburan bagi anaknya setelah capek seharian sekolah. Saya selalu ingat sharing seorang Psikolog Mohammad Faudzil Adhim, beliau bilang saya tidak mau punya televisi kalau belum bisa menguasai televisi. Nah, kalau menurut pengertian saya, maksud pernyataan dikuasai TV bisa dicontohkan seperti ini :
-Kalau ibu-ibu waktu masaknya gak mau benturan sama jadwal TV, nyetrika pun sambil matanya tidak lepas dari TV.
-kalau Bapak-bapak punya tontonan favorit, asyik sendiri nontonnya sementara anak dan istri mau ngajak ngobrol disuruh pergi karena mengganggu.
-bila anak-anak asyik nonton TV berjam-jam tiap hari, ada teman-temannya datang pada main bermacam mainan eh..asyik sendiri nonton TV.
Kebalikannya kalau kita bisa menguasai TV artinya kita bisa mengatur tayangan apa yang bermanfaat yang bisa ditonton, kapan waktunya anggota keluarga bisa nonton, berapa lama boleh menonton dan janganlah kita dalam beraktivitas mencocokkan dengan jadwal tv.
Jadi bagaimanakah seharusnya kita memanfaatkan televisi di rumah?
Berbagai kasus tindak kekerasan semakin banyak kita baca atau tonton di media cetak maupun elektronik dewasa ini. Pelakunya bukan hanya orang berusia dewasa, anak-anak pun banyak yang melakukan kekerasan baik kekerasan fisik, seksual maupun psikis. Dari berbagai seminar dan kegiatan parenting saat masih di Jogja, bertambahlah informasi saya bahwa tayangan televisi berperan dalam mempengaruhi perilaku buruk anak-anak. Tampaknya orang tua zaman sekarang harus lebih disiplin dalam memantau aktivitas anak. Masalahnya apakah ini berarti orang tua berperan bak seorang satpam yang tidak lepas dari mengawasi gerak-gerik anak? Wah, kalau yang seperti ini malah berarti membuat anak tidak mandiri dan anak pun merasa tidak dipercaya. Lagi pula mana bisa orang tua mengawasi anak terus-menerus, iya, kan? Disiplin di sini artinya orang tua selalu memantau tontonan anak (sebelumnya dibuat kesepakatan tayangan yang akan ditonton), menjaga ketertiban waktu nonton anak dan bila diperlukan mendampingi anak menonton acara televisi.
Televisi merupakan salah satu sarana efektif dalam penyampaian suatu pesan, misi atau nilai. Contohnya setelah anak menonton iklan susu formula atau snack apalagi yang ditonton berulang-ulang, maka anak mudah tergiur untuk minum susu formula atau makan snack seperti yang diiklankan. Hal ini disebabkan sifat anak yang suka meniru, apalagi kalau yang mengiklankan merupakan tokoh idolanya. Maka apabila tokoh kartun yang rutin ditonton suka memaki bahkan memukul akan mudah ditiru anak yang berakibat mempengaruhi pembentukan karakter anak menjadi tidak baik.
Saat di Yogya dulu anak-anak saya pun menonton naruto. Suatu saat saya pernah ikut menonton di mana saat itu menayangkan adegan pembunuhan. Saya sangat terkejut menyaksikan adegan vulgar yang ditampilkan secara jelas dan sadis. Ada gerakan menyerang dengan pisau atau pedang, ada korban dan darah. Astagfirullah! Saya saat itu segera memberikan penjelasan bahwa adegan tersebut adalah buruk karena menyakiti orang lain, dst. Saya sampaikan juga seharusnya tontonan anak-anak tidak menampilkan tindak kekerasan, justru sebaliknya mengajarkan anak berbuat kebaikan. Akhirnya beberapa waktu kemudian setelah diperkuat berbagai informasi yang saya peroleh tentang muatan negatif film kartun naruto, saya sampaikan kepada anak-anak untuk tidak menonton lagi kartun ini. Kecewa? Pastilah. Tetapi karena sejak mereka bayi biasa diajak komunikasi, maka mereka pun bisa diajak diskusi mengenai masalah ini dan akhirnya menerima penjelasan saya. Tetapi biasanya kalau ada acara yang distop kami bolehkan memilih acara atau film lain sebagai pengganti dengan syarat yang mendidik atau cukup aman (ada diskusi lagi yang kami lakukan untuk memilih tayangan pengganti).
Waktu itu film lain yang menjadi kesukaan Sayyid selain naruto saat usia sekitar 6 tahun adalah Ronaldowati (yang kurang mendidik juga). Film ini bukannya memotivasi anak untuk tekun berlatih dan berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita, tapi malah mengajarkan anak berpikir instan dapat pertolongan gaib(seide dengan kantong ajaib doraemon) dan suka magic(bantuan dengan kekuatan gaib menyerupai harimau, dll yang tidak syar'i). Beruntungnya masih ada acara mendidik yang dikemas menarik yang disukai Sayyid terlebih lagi Asya, yaitu Si Bolang Bocah Petualang, Laptop Si Unyil dan Jalan Sesama. Kalau kartun yang disukai The Rugrats, Blue's Clues. Tapi karena Sayyid bertambah besar sepertinya bosan sama blue's clues. Kartun yang kami batasi antara lain spongebob, doraemon.
Waktu menonton pun kami batasi. Menurut pakar psikologi anak, waktu menonton televisi bagi anak maksimal 1 jam tiap hari, ada juga yang berpendapat 2 jam. Saat menonton televisi otak si anak jadi pasif, bagi anak yang bakat gemuk juga akan lebih mudah bertambah berat badannya dengan nonton TV. Otak anak-anak 80% berkembang hingga usia 3 tahun, sisanya masih berkembang hingga rentang usia 12-14 tahun. Untuk perkembangan otak yang optimal diperlukan stimulasi atau eksplorasi, sehingga kebanyakan nonton TV akan menghambat perkembangan otak anak. Oleh karenanya nak-anak memerlukan banyak aktivitas yang bersifat stimulatif dan eksploratif, terlebih lagi pada diri mereka tersimpan energi besar. Tinggal orang tuanya yang mengarahkan/memprogramkan dan memfasilitasi kebutuhan anak untuk perkembangan yang optimal. Sebuah tantangan yang besar untuk mendidik putra putri kita demi masa depannya dunia akhirat.
Thursday, December 16, 2010
Monday, December 13, 2010
Alhamdulillah, Dapat Juara Lagi!
Bulan Ramadhan yang lalu Sayyid dan Asya mengikuti perlombaan anak-anak Indonesia untuk wilayah Kajang, Bangi dan sekitarnya. Alhamdulillah Sayyid meraih juara 1 untuk hafalan dan juara 1 untuk cerdas cermat. Sementara Asya meraih juara 1 mewarnai dan juara 3 baca puisi. Tahniah, semoga menambah semangat belajar kalian!
Category:
Kegiatan Homeschooling
Saturday, December 11, 2010
Kegiatan Anak 5 dalam 1
Anak-anak yang sempat merasakan bersekolah di Indonesia kemudian melanjutkan sekolah di Malaysia umumnya merindukan suasana seru bermain dengan teman sebaya (sharing kawan2 dr Kajang, Bangi, Serdang, KL). Pada saat bersekolah di Indonesia biasanya anak-anak punya aneka macam permainan khususnya permainan 'outdoor' seperti betengan, tali karet, dll (susah nyebutin namanya). Kalau tinggal di perumahan yang banyak anak Indonesianya ya, lumayan (seperti di lorong kami) bisa melakukan variasi permainan. Namun kalau tinggal di apartemen, flat atau rumah teres yang minim anak Indonesianya terasa banget sepinya.
Meskipun anak-anak ini berinteraksi juga dengan anak Melayu, India dan Cina tapi mengajak permainan ala Indonesia sulit untuk dilakukan. Masalah komunikasi, adat kebiasaan masing-masing boleh jadi mempersulit keinginan ini. Demikian pula di lingkungan sekolah, permainan tentu ada tapi memang beda dengan model permainan 'outdoor' ala Indonesia. Setidaknya hal tersebut dirasakan oleh anak-anak yang kami kenal di daerah Kajang, Bangi, Serdang, Kuala Lumpur. Oleh karenanya, dalam kegiatan pengajian anak di Kajang Utama kecuali untuk antisipasi jenuh mengaji juga untuk eksplorasi potensi dan memuaskan dahaga permainan seru, senantiasa kami programkan kegiatan yang variatif. Foto-foto berikut merupakan rekaman aktivitas 5 dalam 1 di Bulan Agustus y.l. meliputi :
1. Kegiatan memasak di Pos 1 terdiri dari mengiris tempe, membumbui dan menggoreng tempe.
2. Mencari jejakDari Pos 1 s.d. Pos 3 (memahami tanda/petunjuk).
3. Tugas membuat mahkota dari daun namun dengan perintah yang divariasi dengan teka teki. Sehingga anak belajar menggunakan logika dalam memecahkan teka teki dan memahami perintah. Selain itu anak belajar berkreasi dengan memanfaatkan alam sekitar.
4. Belajar melalui kuis pada Pos 2 disertai nasyid, dll.
5. Menikmati hasil memasak pada Pos 1 yaitu tempe goreng, sebagai lauk pelengkap nasi soto yang sudah kami siapkan. Di sini mereka belajar memetik hikmah bahwa dari usaha sendiri (menggoreng tempe) akan dinikmati buah dari usaha tsb. Di pos terakhir ini selain mengembalikan energi mereka juga merasakan nikmatnya kebersamaan, sehingga mempererat ukhuwah di antara kami semua.
Pada saat mengiris tempe, membumbui dan menggoreng tempe terlihat
antusiasme mereka, padahal mayoritas anak adalah laki-laki. So, janganlah lagi apriori terhadap keinginan anak meskipun laki-laki untuk ikut membantu memasak orang tuanya. Keinginan anak-anak seperti ini pertanda mereka senang bereksplorasi dan mencoba banyak hal. Beri kesempatan kepada mereka agar mereka merasa dihargai dan semakin mengasah kecerdasan serta ketrampilan diri.


Category:
Kegiatan Homeschooling
Tuesday, November 30, 2010
Kakak Adik Sholat Berjamaah
Subhannallah! Meski tidak setiap kali sholat tu berjamaah, tapi sering mereka melakukan sholat berjamaah atas kemauan sendiri. Kami sebagai ortu juga bersyukur mereka senang diajak sholat ke Masjid.
Monday, November 22, 2010
Bila Ibu dan Anak Rebutan Buku
Pernah membaca buku berjudul Kak Seto Punya Mimpi? Buku yang mengupas perjalanan hidup Kak Seto ini sarat dengan pesan tentang kepedulian terhadap dunia anak. Sebenarnya aku sudah beli buku ini beberapa tahun yl. Tapi baru setelah pindah sementara ke Malaysia aku bisa menuntaskan buku ini dengan penuh rasa ingin tau. Ternyata perjalanan hidup Kak Seto memang menarik untuk diikuti. Bahkan ketika aku menceritakan beberapa penggal kisah hidup Kak Seto, mampu menggerakkan rasa penasaran Si Sulung Sayyid untuk ikut membaca juga. Alhasil terjadilah rebutan buku di antara kami saking ingin segera membaca isinya.
Wah, kalau lagi rebutan buku, Ummi pun jadi kayak anak kecil ya, yid? He..he..
Untungnya gak sobek ya...
Salah satu hal yang kudapat dari buku itu terasa istimewa adalah pada Bab.19 : Bagi Para Guru. Kenapa terasa istimewa? Karena uraian mengenai bagaimana tanggung jawab seorang guru, tips kepada para guru, hubungan ortu dan guru, dll, sangat bersesuaian dengan kondisi berikut ini :
1. Kami belum menemukan sekolah yang guru - gurunya sesuai uraian dalam buku Kak Seto ini setelah kepindahan kami.
2. Dengan keputusan Homeschooling berarti aku menjadi guru yang harus mempraktekkan ilmu (mengamalkan ilmu) bagaimana menjadi guru yang baik (masih perlu banyak belajar, nih).
Alhamdulillah, buku yang dah kubeli ini banyak memberikan manfaat untukku dan keluarga. Semoga dapat memberikan motivasi bagi yang membacanya.
Category:
Kegiatan Homeschooling
Sunday, November 21, 2010
Asya Berpuisi
Bulan Syawal yang lalu kami sekeluarga menghadiri acara halal bi halal yang diselenggarakan oleh Forkommi Malaysia. Anak - anak diberi kesempatan untuk menghibur hadirin melalui karya mereka. Asya berdua dengan Adzra tampil membaca puisi dan pantun.
Sayang fotonya kabur alias kurang jelas...

Awal mula Asya menampakkan bakat membaca puisi adalah saat mendapatkan "kiriman' puisi karya Adzra lalu mencoba membacanya. Gak nyangka Asya yang belum genap 6 tahun menunjukkan kesungguhan dan penghayatan yang baik dalam membaca puisi. Kami beri dukungan baik dalam bentuk moril maupun pengajaran dalam membaca puisi menurut kemampuan kami. Dengan adanya dukungan dan kesempatan tampil dalam kegiatan HS bertambahlah Asya senang dan percaya diri untuk membaca puisi. Alhasil Asya berani tampil di acara halal bi halal ini. Tahniah Sayangku!
Category:
Kegiatan Homeschooling
Wednesday, October 20, 2010
Kembali Ke KPP Pratama Sleman
Memang belum genap 3 tahun CDTN-ku habis, bahkan masih sisa 10 bulan. Tapi berbagai perencanaan 'back to work' mesti dipersiapkan dan dirancang dengan baik. Sebab urusan masuk kerja lagi kan kaitannya dengan penyesuaian/persiapan diri sekaligus penyesuaian keluarga dengan perubahan ritme Ummi. Syafiq biasanya diasuh Ummi jadi diasuh orang lain seperti 'sekolah bayi' atau nursery yang mulai banyak diadakan di TKIT. Asya masuk kelas 1 SDIT Alam NI tapi transfer dari HS. Sayyid 'back to' kelas lamanya di SDIT Alam, mesti penyesuaian dari HS juga.
Bulan Maret 2010 Ummi mesti buat surat laporan menjelang habisnya CDTN ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sleman (KPP Pratama Sleman). Semoga semuanya lancar...Amin.
Tuesday, October 19, 2010
Overstimulasi Pada Anak
Untuk mendukung tumbuh kembang anak diperlukan stimulasi sejak bayi. Stimulasi akan merangsang kecerdasan otak anak dan merangsang pula berbagai potensi dalam diri anak. Namun demikian stimulasi yang melebihi porsinya justru bisa berakibat tidak baik terhadap si anak. Demikian uraian dalam artikel mengenai tumbuh kembang anak pada link kompas online berikut : http://female.kompas.com/read/xml/2010/10/20/11140865/Bahaya.Overstimulasi.pada.Anak-5
Jadi buatlah stimulasi yang sesuai untuk kemampuan anak. Caranya kita harus mengamati respon anak setelah distimulasi, amati secara seksama. Misal anak kita 1,5 tahun kita ajak menyusun ring donat ternyata melempar semua ring dengan menangis jangan diteruskan permainan. Mungkin si anak capek, ngantuk atau lapar. Kalau anak tertarik ikut memasukkan ring pada tiangnya bisa kita teruskan sambil menyebutkan warna-warni ring dst. Contoh lain saat si anak belum kuat berjalan jangan dipaksa dititah (jalan sambil dipegangi dua tangannya), mungkin baru mampu dorong2 kursi dsb. Mari kita jalani kebersamaan dengan buah hati kita dan memberikan stimulasi yang sesuai.
Sunday, October 17, 2010
why homeschooling?
education for children is the most important of parental responsibilities. it's better for parents to get many knowledges or information about children education although parents decide to send their children to public schools. we have to know how to educate them and choose the best school for them. what does it mean? does the best school mean expensive? does it mean popular? maybe i can write down about the criteria of best school in other posting. so the important point is children have to get good education.
since we disappointed with the schools where our children being educated in "Negeri Jiran", we decided to homeschool them. we couldn't find any schools that love and appreciate our children also understand their soul. fortunately my husband and i like children's world and like playing with them. and we always try to build a good communication with them. when we make mistake we appologize so do they. we have many activities together as family program such as reading books, reading alquran,praying, fast, sports, playing, gardening, cooking etc ...doing many things. so homeschooling become more effective than study at school for us in this country.
so homeschooling is the best thing we can do to educate our beloved children. homeschooling means we have to learn about children education more deeply and widely. homeschooling means we have to build fun learning. homeschooling means we are as parents, teachers and friends. it's not easy but not difficult too. just enjoy fun learning at home. learning everywhere about anything. never afraid fail when we're learning something. May Allah bless us.
Subscribe to:
Posts (Atom)











